- Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan Senin, 19 Januari 2026, ditutup Rp16.955 per dolar AS di pasar spot.
- Pelemahan rupiah sebesar 0,40 persen ini merupakan yang terdalam dibandingkan mata uang Asia lainnya hari itu.
- Sentimen negatif domestik menjelang RDG Bank Indonesia menjadi pemicu utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan pada penutupan, Senin, 19 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.955 per dolar AS atau USD.
Pada hari ini, rupiah telahmelemah 0,40 persen persen dibandingkan penutupan pada Kamis yang berada di level Rp 16.896 per USD.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.880 per USD.
Sementara itu, pergerakan mata uang Asia rupiah yang mengalami pelemahan terdalam. Disusul peso Filipina yang melemah 0,19 persen, won Korea melemah 0,13 persen.
Kemudian, diikuti rupee India melemah 0,12 persen dan dolar Taiwan melemah 0,03 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS sore ini. Baht Thailand mencatat kenaikan terbesar yakni 0,55 persen. Disusul dolar Singapura yang menguat 0,22 persen, yuan China menguat 0,10 persen.
Lalu, yen Jepang menguat 0,05 persen ringgit Malaysia menguat 0,02 persen dan dolar Hong Kong menguat 0,003 persen terhadap dolar AS.
Sentimen Pelemahan Rupiah
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan mendapatkan sentimen negatif dari dalam negeri, salah satunya jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
Baca Juga: Kurs Dolar AS Sudah Dijual Rp 17.000 di Bank-bank Besar
"Rupiah mendekati rekor terendah terhadap dollar AS di tengah meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter menjelang RDGBI pekan ini," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Dia pun mengungkapkan, USD sendiri terpantau melemah cukup besar setelah ancaman tarif oleh Trump kepada negara-negara yang menentang penjualan Greenland ke AS. Namun, rupiah justru ikut tertekan oleh sentimen risk off di pasar.
"Rupiah paling tidak masih akan terus tertekan hingga RDGBI, dan akan semakin tertekan apabila dalam rapat tersebut dewan BI kembali menekannkan perlunya menurunkan suku bunga demi mendukung perekonomian. Namun tentunya, faktor lain yg tidak kalah pentung adalah desifit anggaran yang diperkirakan bisa melewati batas 3," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
-
Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
Terkini
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Emiten ZATA Harganya Meroket, Ini Dia Sosok Saudagar Pemegang Sahamnya
-
BRI Peduli Dukung Ketersediaan Fasilitas Belajar Nyaman dan Aman di Sekolah
-
Kurs Dolar AS Sudah Dijual Rp 17.000 di Bank-bank Besar
-
Banyak Butuh Uang, Pengajuan Pinjol Mulai Marak Terjadi Jelang Ramadan
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
-
Viral Purbaya Resmikan Pinjol Yayasan Al Mubarok, Kemenkeu Pastikan Hoaks
-
Jalur Terputus, BPH Migas dan Pertamina Punya Trik Khusus Pasok BBM di Aceh
-
Harga Cabai Mulai Berangsur Turun, Dibanderol Rp 35.000/Kg
-
Daftar Saham UMA Hari Ini 19 Januari 2026, BEI Ungkap Penyebabnya