Bisnis / Makro
Rabu, 11 November 2015 | 07:57 WIB
Ilustrasi: Mati lampu. (Shutterstock)

Suara.com - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi akhir-akhir ini sangat merugikan industri hotel di Kota Manado karena biaya operasional meningkat dan peralatan elektronik rusak.

General Manager Lion Hotel and Plaza Manado Rahmat Billy di Manado, Rabu (11/11/2015) mengatakan setiap hari terjadi pemadaman dari pukul 17.00-22.00 WITA sehingga pihaknya harus menggunakan genset dan bisa menghabiskan solar hingga 700 liter yakni sekitar Rp5,5 juta per hari.

"Hal ini sangat merugikan kami karena biaya tersebut selalu kami keluarkan setiap hari," jelasnya.

Yang paling parah, katanya, mulai rusak semua peralatan elektronik seperti lemari es, mesin pemanas makanan dan paling banyak pendingin ruangan, jelasnya.

Hal senada juga dikatakan General Manager Hotel Aston Manado Bambang Wijanarko bahwa sering padamnya listrik membuat pengeluaran yang tidak terduga.

"Pengeluaran yang tidak terduga seperti biaya genset yang cukup besar, serta harus memperbaiki peralatan listrik yang sudah mulai rusak," jelasnya.

Dia mengatakan pemerintah harus mencari alternatif lain dengan memberikan kesempatan pihak swasta untuk berinvestasi listrik ndi Sulut.

"Kami berharap pemadaman listrik ini akan segera berakhir,"jelasnya.

General Manager PLN Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo) Baringin Nababan mengatakan pihaknya akan terus melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi sehingga pemadaman akan terus diminimalisir.

"Perbaikan terus kami lakukan, progres pembangunan fisik PLTG Gorontalo 100 MW telah mencapai 43 persen sejak dimulai pembangunannya awal September 2015 oleh kontraktor dari PT Pembangunan Perumahan (Persero), salah satu BUMN Karya yang ikut serta dalam pembangunan proyek infrastruktur ketenagalistrikan," jelasnya.

Juga, katanya, PLTG Gorontalo 100 MW ini termasuk dalam proyek pembangunan 35 ribu MW yang menjadi program pemerintah pusat. (Antara)

Load More