Suara.com - Ikatan Bankir Indonesia mendukung kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 7,5 persen di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
"Kombinasi kebijakan moneter BI dalam mempertahankan suku bunga acuan di angka 7,5 persen itu sangat logis," kata Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Zilkifli Zaini di kawasan Pancoran, Jakarta, Kamis (10/12/2015).
Bahkan dirinya merasa khawatir jika BI menurunkan suku bunganya karena banyak tekanan yang ditujukan kepada bank sentral tersebut saat ini.
Pasalnya, hingga saat ini bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve System (The Fed) masih belum menetapkan sesuatu yang pasti terkait suku bunga acuannya, sehingga menurutnya Indonesia lebiha aman menunggu.
"Kita harus menunggu, paling tidak sampai kuartal I atau kuartal II tahun 2016, saya support bank sentral untuk mempertahakan BI Rate," ucapnya.
Sementara itu, meskipun bank sentral tidak menurunkan bunga acuannya, namun BI telah melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan Giro Wajib Minumum (GWM) dari 8 persen menjadi 7,5 persen agar likuiditas di pasar naik.
Kebijakan itu dinilai mulai menurunkan tekanan pada BI. Sebab, dengan penurunan GWM 0,5 persen, BI membebaskan likuiditas sebesar Rp 19 triliun.
"Kebijakan itu oke menurut saya, namun mungkin seharusnya bisa dipertimbangkan lebih besar dari itu penurunannya mungkin 1 persen sehingga dampaknya akan besar juga," tutur dia.
Meskipun begitu, Zulkifli mengatakan, IBI optimistis dengan prospek 2016, namun, dia mengakui masih akan ada risiko khususnya rasio kredit macet. Selain itu, risiko perubahan kurs mata uang dan kejahatan perbankan elektronik diprediksi masih terjadi.
Selain menghadapi risiko tersebut, bank masih harus meningkatkan dana murah agar penyaluran kredit bisa dilakukan dengan harga bersaing. Tantangan lainnya berasal dari peningkatan pendapatan berbasis biaya atau fee based income.
"Hampir semua bank punya kelemahan meningkatkan fee based income, mereka fokus salurkan kredit," ujarnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Perry Warjiyo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah, BI Intervensi All Out Jaga Stabilitas
-
KSSK Klaim Perbankan Nasional Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global
-
Bos BI Jamin Cadangan Devisa Tak Akan Goyah untuk Intervensi Rupiah
-
BI: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pendorong Ekonomi Indonesia Meroket
-
Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok saat BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Melejit Tinggi
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tutup Pabrik, Krakatau Osaka Steel Apakah Sama dengan Krakatau Steel?
-
Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.366 per Dolar AS, Dipicu Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar
-
IHSG Bergerak Dua Arah Pada Jumat Pagi
-
Lawan Overcapacity, Strategi Transformasi SIG Mulai Berbuah Manis
-
Lahan Pusat Kota Menipis, Kawasan Kemayoran Bakal Disulap Jadi Pusat Ekonomi Baru
-
Cara Payfazz Bantu UMKM Cari Cuan Tambahan
-
Jelang Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Tipis Jadi Rp 2.839.000/Gram
-
MARK Tebar Dividen Rp50 per Saham, Cek Jadwalnya di Sini
-
Dukung HKI, Menekraf Teuku Riefky Sebut Shopee Motor Baru Ekonomi Sektor Penerbitan
-
Eks Dirut BJBR dan Bank Jateng Divonis Bebas dalam Kasus Sritex, Ini Alasannya