Suara.com - Kementerian Perindustrian sedang menyusun peta panduan atau roadmapindustri penunjang perkeretaapian di Indonesia. Roadmap tersebut akan mengarah pada kemandirian dan pemerataan pembangunan industri nasional.
Dalam proses penyusunannya, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait termasuk pelaku industri.
“Kami akan menyusun produk komponen-komponen apa saja yang akan dikuasai dalam jangka waktu tertentu baik yang sifatnya tahunan, lima tahunan sampai pada 25 tahun kedepan,” kata Putu dalam pernyataan resmi di Jakarta, Rabu (10/2/2016).
Kemenperin memberikan apresiasi atas terbentuknya IRCMA sehingga diharapkan dapat menjadiwadah komunikasi dan partnership guna meningkatkan kemampuan industri dalam negeri untuk berperan optimal dalam pengembangan perkeretaapian di Indonesia.
“Melalui asosiasi ini, saya berpesan agar segera diidentifikasi potensi dan kemampuan para anggotanya yang sudah mampu membuat produk-produk komponen dan sistem perkeretaapian serta yang akan dikembangkan,” tutur Putu.
Dapat disampaikan, sebanyak 50 institusi telah menjadi anggota IRCMA, diantaranya perusahaan BUMN yang teridentifikasi selama ini telah memasok komponen kereta api seperti PT. Pindad untuk rem, PT. LEN untuk persinyalan, PT. Barata untuk bogie, dan PT. Krakatau Steel untuk bahan baku baja.
“Anggota lainnya terdapat lembaga litbang serta industri kecil dan menengah yang berpengalaman maupun yang memiliki kemampuan men-supply komponen kereta api,” tambahnya. Pada asosiasi ini juga didukung oleh pakar perkeretaapian yang berasal dari universitas dan praktisi.“Saya meminta agar kesatuan kerja dan saling mendukung diantara anggota tetap dijaga,” tegasnya.
Ia meyakini, industri perkeretaapian mampu menjadi mesin pendorong ekonomi sekaligus kebangkitan teknologi nasional. Untuk itu, Kemenperin terus mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam pengembangan dan penguasaan teknologi kereta api.
Tahun lalu, Kemenperin bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PTIndustri Kereta Api(INKA) telah mendirikan Pusat Desain dan Rekayasa Industri Perkeretaapian Nasional di Kampus ITB. Tujuannya antara lain adalah mendukung pelaksanaan kajian-kajian pengembangan perkeretaapian, pelaksanaan program riset dan pengembangan produk, pengembangan sumber daya manusia, serta menjadi inkubator bisnis dan pengujian-pengujian produk.
“Melalui pusat ini, dapat dilakukan sinergi dalam melakukan desain dan engineering komponen dan sistem perkeretaapian. Selanjutnya melalui asosiasi juga dapat berkolaborasi mewujudkan produk fisik sampai kepada produksi missal,” papar Putu. Dengan demikian, diharapkan kolaborasi antara industri, lembaga litbang dan akademisi serta dengan pemerintah (triple helix) dapat mewujudkan kemandirian pada sektor perkeretaapian.
Tulang punggung transportasi
Putu menambahkan kereta api merupakan salah satu tulang punggung transportasi massal masa depan di Indonesia dan diharapkan menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, industrikeretaapimenjadisektor proritassebagaimana diamanatkan dalamPerpresNomor 14 tahun 2015tentangRencanaInduk Pembangunan IndustriNasionaltahun 2015-2035.
“Kereta api menjadi salah satu fokus utama Pemerintahan saat ini yang tertuang dalam Nawa Cita dan kita lihat sudah mulai dibangun infrastrukturnya seperti rel ganda di Jawa, trans Sumatera, trans Sulawesi, trans Kalimantan bahkan untuk trans Papua sedang dikaji kelayakannya oleh Kementerian Perhubungan,” tuturnya.
Di samping itu juga sedang dikembangkan Kereta Rel Listrik (KRL), Light Rapid Transit (LRT), dan Mass Rapid Transit (MRT) di kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. “Serta tidak kalah pentingnya adalah pengembangan kereta cepat yang akhir-akhir ini sangat intens dibicarakan,” ujarnya.
Dengan kebutuhan pengembangan kereta api yangcukup besar itu, industri penunjang perkeretaapian menjadi prioritas dan strategis untuk segera dikembangkan sehingga keterlibatan industri lokal dapat dipacu maksimal. Terlebih lagi bisnis perkeretaapian di Indonesia masih relatif baru berkembang dan belum ada ketergantuan terhadap prinsipal.
Berita Terkait
-
KA Lokal Ikut Jadi Primadona Selama Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026
-
Polisi Berdarah di Perlintasan Rel Kereta Api Tanpa Palang Pintu
-
Penumpang Kereta Api Membludak, Okupansi Tembus 150,7%
-
Jangan Sampai Kehabisan! Masih Ada 587 Ribu Kursi Kosong KA untuk Arus Balik Lebaran 2026
-
Live Report: Suasana Pemudik di Stasiun Gambir pada Hari H Idulfitri 2026
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Penghapusan KBMI 1 Masih Bertahap, OJK Pastikam Tidak Ada Unsur Paksa
-
Wall Street Anjlok, Investor Dihantui Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Iran
-
Harga Minyak Dunia Naik Tinggi Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
-
Tensi Geopolitik Timteng Panas, Ketahanan Energi RI Dinilai Paling Kuat di ASEAN
-
Update Arus Balik Lebaran 2026: Terminal Pulo Gebang Ramai, Perjalanan Tetap Lancar
-
Siap-siap! IHSG Bisa Anjlok Setelah Libur Panjang, Simak Rekomendasi Saham
-
IHSG Rawan Terkoreksi, Cek Saham yang Cuan setelah Liburan Panjang Berakhir
-
DJP Ungkap Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta di H+1 Lebaran
-
Jelang Deadline, Jumlah Wajib Pajak Lapor SPT Tembus 8,7 Juta
-
Hari Air Sedunia: Ini Sederet Kisah Pertamina dari Ujung Papua hingga Wilayah Bencana