Suara.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur mencatat temuan uang palsu di wilayah itu meningkat sekitar 3.000 lembar dari tahun 2014 yang mencapai 11.279 lembar, kemudian tahun 2015 mencapai sebanyak 14.610 lembar.
Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Komunikasi dan Layanan Publik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Hestu Wibowo di Surabaya, Rabu meyakini peningkatan itu bukan karena jumlah kasusnya atau yang membuat uang palsu meningkat, melainkan sisa uang palsu lama yang baru ditemukan oleh aparat penegak hukum.
"Dugaan uang palsu yang beredar dan ditemukan di Jatim belum lama ini merupakan sisa dari penggunaan dana pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada 9 september 2015 lalu, mengingat biasanya beredarannya hanya menjelang lebaran," katanya.
Ia mencatat untuk tahun 2016, hingga Februari total uang palsu yang sudah ditemukan sebanyak 3.154 lembar, dan terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
Temuan itu, kata Hestu dilakukan di beberapa tempat di Jawa Timur, seperti di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, kemudian di Kabupaten Jember.
"Oleh karena itu BI terus berupaya menekan beredarnya uang palsu, dengan kita galakkan Gerakan Nasional NonTunai (GNNT) untuk meminimalisir potensi pemalsuan uang yang sekarang ini semakin canggih," katanya.
Hestu mengatakan, GNNT hanyalah salah satu satu instrumen yang bisa dipakai untuk memperkecil peluang peredaran yang palsu, karena yang paling utama adalah kesadaran masyarakat terhadap sistem pembayaran yang sah.
"Kesadaran masyarakat ini juga berangkat dari sosialisasi program 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang saat menerima uang di beberapa lokasi," katanya.
Hestu mengatakan kasus pemalsuan sudah terjadi sejak era orde baru, namun aksi semacam itu tidak banyak dipublikasikan media, seperti halnya isu korupsi.
"Sejalan dengan era keterbukaan informasi, beragam kasus termasuk korupsi dan pemalsuan uang jadi sering diangkat ke permukaan saat ini," katanya.
Ia berharap, GNNT yang sudah digalakkan sejak 14 Agustus 2015 mampu mengedukasi masyarakat tentang jasa sistem pembayaran yang sah di Tanah Air, dan BI akan terus melakukan pengawasan kegiatan sistem pembayaran. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
Bank Mandiri Jalankan 1.174 Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Sepanjang 2025
-
Klasterku Hidupku BRI Jadi Penggerak UMKM Panaba Banyuwangi
-
Danantara Segera Mulai Pembangunan Pabrik Bioetanol di Banyuwangi
-
Kementerian PU Angkut 698 Ton Sampah dari Aceh
-
BRI Dorong UMKM Batam Lewat MoU Investasi dan Digitalisasi Qlola
-
IHSG Menguat Lagi, Purbaya: Pasar Mulai Terima Thomas Djiwandono
-
Profil Shinhan Sekuritas, Digeledah Polisi Imbas Dugaan Saham Gorengan
-
Merger Trio Anak Usaha Pertamina Dikebut
-
Diminta Bereskan Saham Gorengan, Purbaya: Jangan Biarkan Investor Ritel Rugi
-
Purbaya: Saya Tak Bisa Kendalikan Saham, Tapi Pastikan Ekonomi Naik Cepat