Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan akan mendapat tambahan likuiditas sekitar Rp4 trilium pasca diturunkannya giro wajib minimum (GWM) primer oleh Bank Indonesia.
"Ini tentu akan memperkuat likuiditas kami," ujar Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja usai pemaparan kinerja BCA sepanjang tahun 2015 di Jakarta, Kamis (3/3/2016).
Jahja menambahkan, pihaknya terus berupaya untuk selalu memenuhi kewajiban kepada nasabah, terutama mereka yang memiliki komitmen untuk mendapatkan pinjaman dari BCA.
Jadi, lanjut dia, jika BCA meletakkan dananya di cadangan sekunder ("secondary reserve") berupa sertifikat Bank Indonesia (SBI) maupun obligasi pemerintah ("government bond"), itu bukan untuk mencari untung.
"Itu untuk 'parkir' sementara, menunggu nasabah yang ingin menarik pinjaman yang sudah dijanjikan oleh BCA. Jumlah pinjaman menunggu ini, yang disebut 'unused credit facility', di BCA mencapai Rp100 triliun dan harus bisa dicairkan kapan saja," kata Jahja, sambil menambahkan BCA memiliki Rp60 triliun--RP80 triliun dana cadangan untuk mengantisipasi permintaan nasabah tersebut.
Selain untuk pinjaman, BCA juga memberlakukan pencadangan untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah kredit bermasalah (NPL). Pada tahun 2015, NPL BCA meningkat 0,1 persen dari 0,6 persen pada tahun 2014.
"Target pada tahun 2016 kalau bisa juga berada di kisaran yang sama di 2015, di 0,7 persen. Namun yang penting, pencadangan harus cukup," tutur Jahja.
Rasio cadangan kredit bermasalah BCA sendiri adalah 322,2 persen, dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 18,7 persen dan rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) sebesar 81,1 persen per31 Desember 2015.
Ada pun penurunan GWM merupakan hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 17 dan 18 Februari 2016. GWM Primer dalam rupiah turun sebesar satu persen, dari 7,5 persen menjadi level 6,5 persen, berlaku efektif sejak 16 Maret 2016.
Bersamaan dengan itu, BI Rate juga turun sebesar 25 basis point menjadi tujuh persen, dengan suku bunga "Deposit Facility" menjadi sebesar lima persen dan "Lending Facility" menjadi sebesar 7,5 persen. (Antara)
Berita Terkait
-
DSI Berpotensi Gerus Laba Emiten, Bisnis AALI hingga ITMG Bisa Lesu
-
Saham BBCA Diserbu Asing, Target Harganya Bisa Capai Segini
-
Emiten Teknologi ELIT Tahan Dividen untuk Ekspansi Bisnis
-
Mulai Pamer Kinerja, Dony Oskaria Ungkap BUMN Ini Laba Bersihnya Tumbuh 380%
-
Rupiah Alami Pelemahan, Cek Harga Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!
-
Siap-siap IPO, BEI Anggap RANS Entertainment Lolos dari Free Float
-
PLTU Pelabuhan Ratu Terus Gunakan Co-firing Biomassa dari Sorgum
-
Influencer Tak Bisa Lagi Asal Kasih Saran Saham dan Kripto, Begini Ketentuannya
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun
-
MSCI Pertahankan Indonesia di EM, Mengapa IHSG Masih Ambruk?
-
Dorong Kolaborasi Hijau, Pegadaian Dukung Program 2.000 Pohon di Kaltim
-
Harga Durian Anjlok, Musang King Dijual Rp23 Ribu per Kg
-
Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!