Suara.com - Bank Dunia menyetujui tawaran pembiayaan kepada Pemerintahan Yordania sebesar 100 juta dolar AS dalam untuk menciptakan sekitar 100.000 lapangan pekerjaan baru bagi kaum pengungsi Suriah dan masyarakat Yordania.
"Pemerintah Yordania telah melakukan hal yang luar biasa dalam membantu mengatasi tantangan membanjirnya jumlah pengungsi," kata dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (28/3/2016).
Menurut dia, tugas masyarakat internasional saat ini adalah membantu Yordania dalam menyediakan pembiayaan yang inovatif untuk terus membantu para pengungsi yang datang dari kawasan konflik seperti Suriah.
Selain itu, Presiden Bank Dunia juga menyatakan penting bagi pemerintahan Yordania untuk melakukan reformasi yang dibutuhkan untuk menarik investasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Pernyataan itu disampaikan dalam kunjungan bersama oleh Kim dan Sekjen PBB Ban Ki Moon yang dimaksudkan untuk menegaskan kembali komitmen global guna mengatasi dampak krisis Suriah melalui bantuan kemanusiaan segera dan dukungan pembangunan jangka panjang.
Tujuan kunjungan ke Yordania itu juga menciptakan solusi inovatif yang dimulai dengan mengatasi hambatan ekonomi dan sosial dari masuk arus pengungsi, termasuk meningkatkan pelayanan dasar serta menciptakan lapangan pekerjaan baik bagi pengungsi Suriah maupun warga Yordania.
Sebelumnya, Bank Dunia mengingatkan kondisi ekonomi global saat ini masih lemah dan rentan sehingga berpotensi semakin volatil atau kurang stabil.
"Satu-satunya mesin pertumbuhan ekonomi global adalah ekonomi AS, sedangkan Eropa masih berjuang untuk memulihkan diri dan sekarang menghadapi risiko penurunan tambahan karena munculnya 'brexit' dan krisis pengungsi yang masih berlanjut," kata Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati.
Brexit adalah wacana keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Selain itu, Jepang juga masih berlanjut dengan pertumbuhannya yang lemah, antara lain karena dilonggarkan kebijakan moneter mereka dan penerapan suku bunga negatif.
Begitupula halnya dengan kondisi negara-negara berkembang yang selama dekade terakhir menjadi mesin pertumbuhan global, pada saat ini masih menunjukkan kinerja yang tidak optimal.
"Brazil dan Rusia sedang resesi dan pertumbuhan Tiongkok melambat. Perdagangan global tidak beranjak naik dan pertumbuhan produktivitas tetap lemah," kata mantan Menteri Keuangan RI itu pula.
Permasalahan kedua yang harus dihadapi, lanjutnya, adalah harga komoditas yang akan tetap rendah karena pasokan minyak tetap tinggi dan permintaan akan komoditas tersebut diperkirakan tidak bakal meningkat dengan segera.
Hal tersebut mengakibatkan persoalan, seperti 30 persen warga miskin dunia yang hidup di negara-negara pengekspor minyak dunia akan terkena dampak, karena anggaran negara-negara tersebut menurun dan berpotensi memotong pengeluaran pos kesejahteraan sosial dan pos anggaran lainnya yang dinilai pro-kaum miskin.
Permasalahan ketiga adalah perubahan iklim yang berpotensi menciptakan 100 juta orang miskin baru, karena gejala iklim seperti El Nino (kekeringan) yang terparah terjadi sejak akhir tahun 1990-an melanda beragam kawasan, seperti di Afrika Timur dan Selatan, Amerika Tengah, dan Karibia. (Antara)
Berita Terkait
-
Profil Timnas Yordania: Kuda Hitam dari Timur Tengah
-
Bank Dunia Peringatkan Hal Mengerikan Bakal Terjadi Imbas Perang AS - Iran Berkepanjangan
-
Pamer ke IMF & World Bank, Purbaya Klaim RI Siap Ekspor Pupuk di Tengah Krisis Global
-
Warga Yordania Usir Militer AS, Sadar Negaranya Cuma Dijadikan 'Boneka'
-
Cerita Purbaya Tolak Bantuan Utang IMF & World Bank 30 Miliar USD, Klaim APBN Kuat Berlapis-lapis
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu
-
Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite
-
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 9 Mei 2026: Antam Turun, UBS dan Galeri24 Stabil
-
Pertamina-Departemen Energi Amerika Serikat Bahas Penguatan Pasokan Energi & Infrastruktur Strategis
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik