Suara.com - PT Pertamina (Persero) menggandeng tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT LEN Industri, PT Energi Management Indonesia dan PT Sarana Multi Infrastruktur, mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) tersebut menggunakan lahan-lahan yang belum termanfaatkan milik Pertamina dan BUMN lainnya, kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro di Jakarta, Jumat (1/4/2016).
Wianda mengatakan kerja sama Pertamina dengan tiga BUMN lainnya sejalan dengan pemenuhan target pemerintah dalam program 35 Gigawatt (GW) hingga 2019, yang diharapkan 25 persennya atau setara 8,8 GW akan disuplai dari sumber energi terbarukan.
Khusus untuk pembangkit listrik tenaga surya, pemerintah telah menargetkan kapasitas terpasang mencapai lima GW atau 5.000 megawatt (MW) pada 2020. Pertamina berkomitmen untuk ikut membangun PLTS sebesar 1.000 MW.
"Sinergi BUMN ini diharapkan dapat mendorong implementasi EBT di Indonesia yang akan dimulai dengan target hingga 60 MW pada tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan akan dilanjutkan pengembangannya selama tiga tahun ke depan hingga mencapai target 200 MW, dengan memanfaatkan sejumlah lahan 'idle' milik Pertamina yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia," kata Wianda.
Wianda menegaskan pengembangan EBT akan tetap disesuaikan dengan kemampuan serap kapasitas jaringan PT PLN (Persero) yang sudah ada di lokasi-lokasi tersebut. PT SMI sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur sangat diharapkan dukungannya untuk mencarikan dana "hijau" yang banyak dikucurkan oleh negara-negara maju sehingga keekonomian proyek menjadi menarik.
BUMN lainnya, LEN merupakan BUMN industri strategis yang telah memiliki fasilitas produksi solar modul dan telah memiliki aset operasi PLTS 5MWp di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Energi Management merupakan BUMN di bidang energi yang memiliki pengalaman di bidang manajemen proyek dan konsultan di bidang penanganan konservasi energi dan energi terbarukan.
Menurut Wianda, proyek-proyek yang akan dikembangkan dalam sinergi BUMN ini akan terus mengedepankan prinsip-prinsip komersial dan memenuhi tata kelola perusahaan yang baik untuk menjadi pioneer dalam pengembangan EBT di Indonesia.
"Dengan skala yang makin masif dan pengembangan yang intensif di seluruh Indonesia, tentunya biaya pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan akan terus mendekati biaya pembangkitan dari energi konvensional," tandasnya.
Ketua Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma mengatakan secara umum kendala pengembangan EBT sama. Bagi investor, penanaman modal akan diukur dengan tingkat pengembalian modal dari setiap investasi yang ditanamkan.
Untuk itu menjadi kewajiban pemerintah memberikan payung hukum yang dapat memberikan kemudahan dalam berinvestasi, memiliki pasar energi yang luas hingga tingkat pengembalian yang menarik walaupun dengan berbagai risiko sekalipun.
Menurut dia, sinergi Pertamina dengan tiga BUMN lainnya dalam pengembangan EBT merupakan upaya yang sangat baik. Pertamina sebagai perusahaan energi yang memiliki kemampuan finansial yang baik, bekerja sama dengan LEN yang memiliki kompetensi di bidang solar energi dengan pengalaman yang panjang, baik sebagai pelaku manufaktur, pengembang, bahkan sebagai operator.
"Apalagi ditambah dengan ikut sertanya SMI dan EMI. Ini akan merkuat sinergi pengembangan EBT ke depan. Apabila hal ini terus dilakukan saya kira banyak proyek EBT yang sudah dicanangkan pemerintah akan dapat dikembangkan dengan maksimal," ujar Surya Darma.
Dalam Rencana Strategis dan Proyeksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya 2015-2019 yang ditetapkan Kementerian ESDM, ditargetkan ada penambahkan PLTS yang mampu memasok listrik 212 MW setiap 5 tahun. Pengembangan PLTS terutama ditujukan untuk pulau-pulau terluar dan kawasan perbatasan. (Antara)
Berita Terkait
-
Berapa Harga Pertalite Per 1 Agustus 2026?
-
Siapa Lebih Murah Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Per 1 Agustus 2026?
-
Daftar Harga BBM Pertamina Mulai 1 Agustus 2026
-
Sampah Bandung Disulap Jadi Hidrogen, Pertamina Siapkan Model Energi Masa Depan Indonesia
-
PLTS 100 GW akan Mulai Dibangun, IESR: Jangan Lupakan Akses Listrik di desa
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
DPRD DKI Soroti Kesiapan LPDP Jakarta, Usul Anggaran Diprioritaskan untuk Sekolah Gratis
-
Ekonomi RI di Kuartal II Diselamatkan Oleh Masyarakat yang Sering Makan di Restoran
-
Minyak Kemiri Murni vs Minyak Kemiri Bakar, Mana yang Lebih Baik untuk Rambut?
-
Duh! 1 Lowongan Kerja Kini Diperebutkan 16 Orang, Persaingan Makin Brutal
-
From Cat Stevens to Yusuf Islam: Saat Ketenaran Tak Lagi Cukup Mengisi Jiwa
-
Link Nonton Gerhana Matahari Total dan Hujan Meteor Perseid Agustus 2026
-
Dewa 19 Janjikan Setlist Berbeda di Panggung HUT ke-3 Garuda TV, Lagu 'Langka' Siap Dibawakan
-
Timnas Indonesia Dibantai, Nguyen Xuan Son Singgung Gelar Juara Piala AFF 2026
-
Laba SSIA Berbalik Positif Rp262,6 Miliar, Bisnis Kawasan Industri Jadi Mesin Pertumbuhan
-
Viral Pasien BPJS Harus Menunggu 8 Jam di IGD, IDI: RS Tidak Bisa Mendeteksi Emergensi?