Suara.com - Kantar Worldpanel Indonesia mencatat melambatnya pertumbuhan ekonomi pada 2015 memberikan dampak negatif kepada pelaku bisnis dan konsumen. Hal ini terlihat dari Fast Moving Consumer Goods yang hanya tumbuh 6,9 persen pada 2015.
"Memang ada dampaknya, tapi dampaknya hampir ke semua negara nggak Indonesia aja. Frekuensi belanja konsumen pada 2014 itu 14,7 persen, ini kan double digit, tapi di 2015 itu jadi single digit hanya 6,9 persen," kata New Business Development Director Kantar Worldpanel Fanny Murhayati di Jakarta, Kamis (26/5/2016).
Dengan kondisi tersebut, kata Fenny, masyarakat mau tidak mau mengurangi frekuensi belanja sebagai strategi untuk menghindari pembengkakan pengeluaran. Salah satunya dengan membeli produk-produk kebutuhan primer saja.
"Yang cemilan-cemilan seperti chiki atau biskuit itu mengalami penurunan. Mereka cuma beli Rinso, sabun pokoknya yang benar-benar hanya kebutuhan primer saja," katanya.
Namun, dia meyakini dampak pelemahan perkonomian global tidak akan membuat para pelaku bisnis takut mengalami kerugian. Pasalnya, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memperbesar pasar FMCG.
"Pada tahun 2015, populasi penduduk Indonesia mencapai 255,5 juta jiwa dengan jumlah rumah tangga mencapai 65,1 juta. Dari jumlah yang besar tersebut, 68 persen berada pada usia produktif (15-64 tahun). Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan. Kuncinya inovasi, kalau sudah bisa berinovasi kita bisa masuk kompetisi apalagi e-commerce," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Jelang Rebalancing MSCI, Emiten Sinarmas DSSA Ditinggal Kabur Investor Asing
-
Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Hasilkan Total Shareholder Return 35,7%
-
BRI Multiguna Karya Mempermudah Berbagai Rencana Untuk Segala Kebutuhan
-
Purbaya Ancam Potong Anggaran Kementerian dan TKD Pemda Jika Hambat Proyek Investasi
-
Rupiah Terkapar ke Level Rp17.529 per Dolar AS, Cetak Rekor Buruk Baru Sore Ini
-
PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan
-
Langkah Tegas, DJP Jawa Timur Blokir Rekening 3.185 Penunggak Pajak di 11 Bank
-
Pesan Tegas Purbaya: Jabatan Adalah Fungsi Pelayanan, Bukan Sekadar Fasilitas
-
Si Kaya Borong Mobil Listrik, Si Miskin Ribut Upah Tak Naik
-
Rupiah Anjlok Rp17.500 per Dolar AS, Suku Bunga Berpotensi Naik