- Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5 persen pada semester I 2026.
- Keputusan tersebut diambil untuk merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi lebih dari 4 persen terhadap dolar AS.
- Terdapat tiga faktor utama penentu kebijakan BI, yakni inflasi domestik, defisit neraca transaksi berjalan, serta arah kebijakan suku bunga Amerika.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate ke level 5 persen pada semester I 2026 di tengah terus melemahnya nilai tukar rupiah, demikian disampaikan Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi di bawah Permata Bank.
Saat ini BI-Rate dipertahankan di level 4,75 persen. Sementara nilai tukar rupiah pada Selasa sudah mencapai level paling lemah, yakni di Rp17.500 per dolar AS.
"Kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada. Jadi kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 persen (basis) poin di semester pertama,” kata Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Faisal menerangkan peluang kenaikan suku bunga acuan muncul seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang hingga saat ini telah terdepresiasi lebih dari 4 persen. Berdasarkan data terakhir pukul 13.52 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp17.524 per dolar AS.
Secara historis, BI cenderung mulai membuka ruang kenaikan suku bunga ketika pelemahan rupiah telah melampaui 3 persen.
“Apalagi kalau kita lihat SRBI itu rate-nya sudah cukup meningkat terus ke atas. Jadi ini kita perlu antisipasi,” jelasnya,
Adapun PIER juga mengidentifikasi tiga faktor utama yang dapat memengaruhi keputusan BI ke depan.
Pertama, risiko kenaikan inflasi domestik. Kedua, potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan (current account balance). Ketiga, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Meski hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan adanya sinyal pemangkasan suku bunga, pasar masih memandang ruang penurunan suku bunga The Fed tahun ini sangat terbatas.
Baca Juga: Rupiah Terpeleset ke Rp17.414: Ketegangan Global dan Harga Minyak Jadi Beban
“Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” terang Faisal.
Kondisi tersebut membuat tekanan eksternal terhadap nilai tukar dan pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan.
Berita Terkait
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ekonom UGM Sebut Publik Bakal Kena Imbas Harga Naik
-
Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
-
Rupiah Bisa Tembus Rp18.000
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan Bantu BI Setelah Rupiah Tembus Rp 17.500
-
Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp17.501, Beban Rakyat Kian Berat Akibat Harga Pangan yang Naik
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Pengendalian Industri Tembakau Picu Menjamurnya Rokok Ilegal
-
Perempuan Jadi Korban Jika Industri Tembakau Tertekan
-
Pemadaman Bergilir Akibat Pemangkasan RKAB Batubara oleh Kementerian ESDM
-
Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal
-
418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia
-
Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan
-
Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya
-
Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak
-
Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun
-
Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor