Sidang Tahunan Bank Pembangunan Islam (IDB) ke 41 di Jakarta, beberapa waktu lalu, menekankan pentingnya bagi negara-negara anggota lembaga multilateral ini untuk berpartisipasi mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2030.
SDGs yang dicanangkan mulai 2016, merupakan kelanjutan dari program Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) yang telah berakhir pada 2015, dan memiliki sasaran untuk mengentaskan kemiskinan serta mengurangi masalah kesenjangan.
Menurut Presiden Grup IDB Ahmad Mohammed Ali, negara-negara anggota IDB harus menyiapkan diri untuk memenuhi tantangan dan menjawab persoalan yang muncul dengan SDGs, melalui pemanfaatan instrumen keuangan syariah.
Lebih lanjut, ia mengatakan pemahaman menyeluruh terhadap keuangan syariah merupakan salah satu solusi untuk mengurangi kesenjangan, menekan angka kemiskinan dan memperbaiki taraf kehidupan masyarakat kurang mampu, yang menjadi inti dari SDGs.
Inklusi keuangan syariah, kata Ali, memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja perekonomian global yang sedang dilanda kelesuan dan menjawab masalah pemenuhan hajat hidup orang banyak yang umum terjadi di dunia saat ini.
Inklusi keuangan syariah merupakan dorongan penting dalam pembangunan nasional dengan memastikan setiap aktivitas perekonomian, wilayah geografis dan setiap masyarakat memiliki akses pada jasa keuangan syariah.
Ali meyakini dengan inklusi keuangan syariah yang hadir melalui model-model instrumen keuangan syariah, terutama dari Indonesia melalui sukuk ritel dan BMT (Baitul Maal wal Tamwil), masalah kesenjangan, kemiskinan dan buruknya pelayanan kesehatan serta pendidikan dapat ditangani.
Pemerintah sejak lama telah menerbitkan sukuk ritel yaitu instrumen obligasi syariah yang melibatkan masyarakat untuk terlibat dalam pembiayaan negara dan mempunyai BMT sebagai institusi keuangan mikro yang memiliki tujuan untuk menyediaan kesejahteraan bagi anggotanya, sebagai inklusi keuangan syariah di Indonesia.
"Pembiayaan syariah mendukung pertumbuhan inklusif dalam ekonomi serta menolak segala persaingan yang tidak jujur, dan tidak loyal terhadap prinsip dasar kemanusiaan, dan mendukung sektor amal melalui zakat dan wakaf," kata Ali yang mengundurkan diri dari jabatan Presiden Grup IDB seusai penyelenggaraan Sidang Tahunan ke 41.
Pentingnya sukuk ritel Senada dengan pernyataan Ali, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan penerbitan sukuk di Indonesia memiliki berbagai peran yang signifikan untuk mendorong pembiayaan pembangunan infrastruktur, sektor ritel maupun inklusi keuangan.
Untuk itu, Bambang menyebutkan, upaya penerbitan sukuk harus terus dilakukan, terutama sukuk ritel, karena instrumen ini juga dibutuhkan untuk mewujudkan SDGs pada 2030, yang bermanfaat guna mengentaskan kemiskinan serta mengurangi masalah kesenjangan.
"Pertumbuhan inklusif bisa dicapai melalui instrumen sukuk berbasis proyek yang dihimpun secara ritel. Begitu dihimpun ritel, artinya melibatkan banyak orang sebagai investor dan diarahkan untuk proyek yang bersifat pembangunan. Tentu itu pasti akan membantu ekonomi secara inklusif," kata Bambang.
Bambang menjelaskan sukuk ritel memberikan kesempatan kepada investor untuk memiliki akses langsung terhadap pembiayaan pasar keuangan dan masyarakat guna berinvestasi pada instrumen yang aman.
Selain itu, penerbitan obligasi syariah ini bisa memberikan manfaat lain terkait program inklusi keuangan karena bisa mengurangi tingkat kesenjangan dan mendorong adanya kesetaraan, yang sesuai prinsip keuangan syariah.
"Prinsip keuangan syariah dengan karakteristik yang mendukung adanya inklusifitas, kesetaraan, kerja sama dan keadilan bagi semua, bisa membantu pengurangan kesenjangan di antara negara berkembang," kata Bambang.
Sedangkan, menurut dia, program inklusi keuangan merupakan agenda utama bagi negara berkembang karena bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan.
Dengan demikian, prinsip keuangan syariah yang sejalan dengan program inklusi keuangan bisa saling bersinergi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan melalui penerbitan instrumen sukuk ritel.
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia telah menerbitkan delapan seri sukuk ritel dengan total penerbitan sebesar Rp31,5 triliun tercatat pada 2016 dengan jumlah investor yang telah mencapai 48.444 individu.
Masyarakat yang menjadi investor sukuk ritel berasal dari berbagai status sosial dan pekerjaan yang beragam, mulai dari PNS hingga ibu rumah tangga, serta letak geografis yang berbeda.
"Indonesia sekarang salah satu penerbit sukuk terbesar di dunia untuk kategori negara. Untuk sukuk, kita sudah dihormati apalagi kita sudah mempunyai instrumen seperti sukuk ritel," jelas Bambang.
Dari data tersebut, terlihat jelas potensi pengembangan sukuk ritel di Indonesia, apalagi pemerintah saat ini sedang melakukan pembenahan birokrasi dan memperbaiki iklim investasi yang bisa mendukung kinerja perekonomian secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, mewujudkan tujuan SDGs bukan perkara mudah, karena inklusi keuangan syariah yang tidak didukung oleh transparansi dan akuntabilitas dalam implementasinya akan membuat semua pekerjaan mulia berakhir sia-sia.
Namun, Indonesia saat ini telah berada di jalan yang tepat untuk mendorong inklusi keuangan syariah dan mewujudkan tujuan SDGs, karena dalam menjaga kelangsungan pembangunan ekonomi, memang idealnya menggunakan sumber investasi jangka panjang seperti sukuk dan wakaf. (Antara)
Berita Terkait
-
OJK Sebut Ada Bank Syariah yang Buka di Tahun 2026, Ini Bocorannya
-
Gontor dan Jago Syariah Kolaborasi Edukasi Finansial untuk Santri
-
Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.100 Triliun, OJK: Bisa Bantu Ekonomi Indonesia
-
Modal Cekak hingga Cost of Fund Tinggi, Ini Alasan Pembiayaan Bank Syariah Masih Mahal
-
Terungkap Penyebab Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia untuk Perbankan Syariah!
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN