Bisnis / Keuangan
Senin, 06 Juni 2016 | 14:23 WIB
Menkeu Bambang Brojonegoro (kiri) membahas RAPBN-P2016 di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (6/6/2016). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Meski dalam semester satu kondisi perekonomian di Indonesia sudah mulai terlihat ada perbaikan, ternyata pemerintah masih takut dengan kondisi perekonomian global yang bisa memberikan dampak negatif bagi perekonomian di Indonesia.

Saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI yang membahas soal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P 2016), Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan sedikitnya ada tiga hal yang harus diwaspadai oleh Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

"Pertama adalah risiko melambatnya perekonomian Cina yang pertumbubannya diperkirakan hanya 7 persen. Kenapa harus diwaspadai, karena Cina ini mitra dagang Indonesia, terutama di komoditas. Kalau Cina melambat, pasti permintaan komoditas akan mengalami perlambatan," kata Bambang di DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (6/6/2016).

Kedua, lanjut Bambang, melemahnya harga komoditas dipasar global yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini dikhawatirkan akan mengganggu kinerja ekspor Indonesia. Lantaran, komoditas menjadi penggenjot kinerja ekspor Indonesia.

"Karena rata-rata harga komoditas semuanya menurun dan belakangan juga ditambah dengan penurunan harga minyak bumi. Ini kita harus waspadai agar tidak terlalu jatuh," ungkapnya.

Ketiga, isu kenaikan suku bunga bank setral Amerika Serikat atau Fed Rate yang sudah mulai berhembus sejak sebulan lalu.

"Awalnya kan memang The Fed tidak akan menaikkan suku bunganya,tapi seiring dengan berjalannya waktu, data-data mereka menunjukkan adanya perbaikan. Kalau mereka naik, maka ini akan mempengaruhi arus modal di negara emerging, termasuk Indonesia. Nggak tahu kenaikkannya sekali atau dua kali ini harus di waspadai," tegasnya. 

Load More