Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meyakini industri asuransi jiwa di Indonesia tetap akan bisa tumbuh pada tahun 2017. AAJI bahkan memprediksi pertumbuhan industri asuransi jiwa nasional pada tahun depan berkisar 10 persen - 30 persen.
"Ini berdasarkan pengalaman kita selama 10 tahun terakhir. Dalam kondisi perekonomian nasional bagaimanapun, kami optimis industri asuransi jiwa tetap bisa bertumbuha," kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/10/2016).
Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya tersebut juga menegaskan, pertumbuhan industri asuransi jiwa nasional tahun depan diperkirakan sekitar 10 persen hingga 30 persen. "Ini berdasarkan pengalaman kita selama beberapa tahun terakhir ini," ujar Hendrisman.
Terkait peluang dana tax amnesty yang masuk dan berinvestasi di sektor asuransi, ia mengakui potensi ini sangatlah terbuka. Bukan tidak mungkin sebagian wajib pajak yang telah mendaftarkan ikut tax amnesty juga menyertakan jumlah investasinya di sektor asuransi sebagai bagian dari harta yang dideklarasikan. "Cuma berapa persisnya jumlah dana tax amnesty yang ditanamkan ke asuransi, kami belum memiliki datanya. Karena hal seperti ini biasanya tidak dilaporkan secara terbuka kepada kami," jelas Hendrisman.
Namun Hendrisman menilai peluang pertumbuhan industri asuransi jiwa semakin bagus. Terlebih hampir semua Bank BUKU III (kelompok bank dengan modal inti berkisar Rp5 triliun - Rp30triliun, red) dan BUKU IV (kelompok bak dengan modal inti diatas Rp30 triliun,red) semakin serius memasarkan produk bancassurance (produk asuransi yang ditawarkan melalui layanan perbankan, red). "Hampir semua bank besar semakin serius dengan layanan bancassurance mereka," tambah Hendrisman.
Mengenai kekhawatiran keberadaan BPJS Kesehatan, AAJI tidak melihatnya sebagai ancamans serius. Sebab BPJS Kesehatan hanya memberikan cover kebutuhan kesehatan yang sifatnya sangat mendasar. Untuk jasa cover kesehatan yang lebih lengkap dan menyeluruh, keberadaan asuransi kesehatan akan tetap relevan dan dibutuhkan. "Kami kira tidak akan mempengaruhi bisnis asuransi kesehatan," tutup Hendrisman.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Trump Lontarkan Sinyal Damai dengan Iran saat Cadangan Minyak AS Merosot Tajam
-
BSI Tunjuk Bos Besar MUI jadi Komisaris, Dulu Pernah Kritik Prabowo Agar Keluar dari BoP
-
OJK Bongkar Penipuan di Tren Event Olahraga, Ini Modusnya
-
Banjir Impor Baja Murah asal China, Krakatau Osaka Steel Resmi Umumkan Kebangkrutan
-
Apa Itu Ekspedisi Patriot (TEP)? Program Pemerintah dengan Fasilitas Beasiswa Jepang
-
Harga Pangan Hari Ini: Bawang hingga Cabai Kompak Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terkerek
-
Era Bakar Uang Berakhir! Kini Fintech RI Masuk Fase Jaga Kandang dan Akuntabilitas
-
Rupiah Ambyar, Pengamat: RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Juru Selamat
-
Trump Hentikan Sementara Pengawalan di Selat Hormuz, Harga Minyak Melemah
-
Hati-hati! Pinjol Ilegal Masih Marak, Incar Puluhan Ribu Korban