- Fintech RI geser dari fase ekspansi agresif ke fase akuntabilitas dan kepatuhan.
- Strategi growth at all costs berakhir, fokus kini pada kualitas aset dan regulasi.
- Industri butuh talenta compliance-ready yang paham teknologi sekaligus hukum.
Suara.com - Lanskap industri financial technology (fintech) di Indonesia tengah mengalami pergeseran fundamental. Era disrupsi dan ekspansi agresif yang selama ini menjadi ciri khas, kini mulai berganti menjadi fase konsolidasi yang mengutamakan akuntabilitas sebagai kunci keberlangsungan bisnis.
Pengamat keuangan dari Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Arfan Wiraguna, menilai industri fintech nasional telah melampaui fase adopsi massal. Menurutnya, ukuran keberhasilan pemain fintech saat ini tidak lagi hanya diukur dari kecepatan meluncurkan produk baru, melainkan kemampuan menjaga transparansi dan manajemen risiko.
"Fintech Indonesia sudah melewati fase disrupsi dan adopsi. Sekarang masuk fase akuntabilitas," ujar Arfan dalam kajiannya yang bertajuk “Dari Disrupsi ke Adopsi: Talent FinTech yang Compliance-Ready.” dikutip Rabu (6/5/2026).
Arfan menyoroti bagaimana sistem seperti QRIS dan BI-FAST kini bukan lagi sekadar inovasi keren, melainkan telah menjadi infrastruktur dasar ekonomi digital Indonesia. Namun, kemudahan transaksi instan ini membawa risiko fraud yang lebih besar serta tuntutan tata kelola yang jauh lebih tinggi.
Pergeseran ini sangat terasa pada sektor Buy Now Pay Later (BNPL). Model bisnis yang dulu meledak lewat pertumbuhan pengguna secara masif, kini dipaksa mengerem dan beradaptasi dengan pengawasan regulasi yang semakin ketat.
Industri kini dituntut beralih dari sekadar mengejar kuantitas menuju kualitas aset dan perlindungan konsumen. Di titik ini, strategi pertumbuhan tanpa kontrol atau growth at all costs dianggap sudah tidak relevan lagi.
Di sisi lain, adopsi Artificial Intelligence (AI) dan Generative AI (GenAI) di sektor fintech semakin krusial, terutama dalam penilaian kredit dan deteksi penipuan. Arfan mengingatkan bahwa AI bukan lagi sekadar alat pendukung efisiensi, melainkan sudah menjadi pengambil keputusan.
"Karena itu, setiap model harus bisa dijelaskan, diaudit, dan dipertanggungjawabkan," tegasnya. Tanpa mekanisme human-in-the-loop, penggunaan AI dikhawatirkan dapat memicu risiko sistemik baru.
Perubahan peta industri ini otomatis mengubah standar talenta yang dibutuhkan. Perusahaan fintech kini berburu tenaga kerja multidisiplin yang tidak hanya jago teknologi, tapi juga paham regulasi atau compliance-ready.
Baca Juga: Perkuat Kesiapan Asesmen Skala Nasional, 91 Ribu Siswa Ikuti Try Out Digital PIJAR
Merespons kebutuhan ini, institusi pendidikan seperti Universitas Prasetiya Mulya mulai memperkuat kurikulum pada Program S1 Finance & Banking dan S1 Financial Technology. Langkah ini diambil untuk memastikan lulusan mampu menyeimbangkan antara ambisi inovasi dan tanggung jawab profesional di tengah ketatnya audit industri keuangan masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
OJK Bongkar Penipuan di Tren Event Olahraga, Ini Modusnya
-
Banjir Impor Baja Murah asal China, Krakatau Osaka Steel Resmi Umumkan Kebangkrutan
-
Apa Itu Ekspedisi Patriot (TEP)? Program Pemerintah dengan Fasilitas Beasiswa Jepang
-
Harga Pangan Hari Ini: Bawang hingga Cabai Kompak Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terkerek
-
Rupiah Ambyar, Pengamat: RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Juru Selamat
-
Trump Hentikan Sementara Pengawalan di Selat Hormuz, Harga Minyak Melemah
-
Hati-hati! Pinjol Ilegal Masih Marak, Incar Puluhan Ribu Korban
-
Aturan Baru DHE SDA Berlaku 1 Juni 2026, Devisa Eksportir Wajib Disimpan di Bank Negara
-
Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond di China Demi Perkuat Rupiah
-
Kurs Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.388, Dolar AS Tertekan Sentimen Global