Sepanjang tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III hanya mampu mencapai 5,02 persen. Praktis, capaian ini meleset dari target pertumbuhan ekonomi nasional 7 persen yang pernah dijanjikan Presiden Joko Widodo saat kampanye Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu.
Data tersebut semakin diperkuat dengan hasil laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat hingga kuartal III 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia mentok di kisaran 5,02 persen. Padahal di kuartal II 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat di level 5,18 persen.
Capaian pertumbuhan ekonomi 5,02 persen hingga triwulan III, sesungguhnya merupakan hasil yang cukup mengecewakan. Apalagi jika mengingat Jokowi pada pertengahan tahun 2015 menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 bisa mencapai 5,5 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan ekonomi yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 sebesar 5,7 persen.
Jokowi mengucapkan target tersebut dalam Pidato Kenegaraan Asumsi Makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 serta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2016 di Gedung DPR MPR, Jakarta, Jumat (13/8/2015).
Namun pada pertengahan tahun 2016, Menteri Keuangan Sri Mulyani memutuskan untuk mengubah target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016 dari 5,1-5,2 persen menjadi 5-5,1 persen. Revisi target tersebut disampaikannya pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR yang membahas tentang Rancangan APBN 2016, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/9/2016).
Padahal sejak tahun 2015, pemerintah sudah mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi. Tujuannya untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi nasional agar lebih bergairah. Namun apa lacur, hingga akhir tahun 2016, rangkaian jurus pemerintah tersebut belum mampu memberikan hasil yang signifikan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Sesungguhnya problem ekonomi Indonesia sepanjang 2016 juga dialami seluruh dunia. Faktanya, pertumbuhan ekonomi global juga tengah lesu.
Kenyataan ini diakui oleh Kepala BPS lama, Suryamin saat melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2016 yang hanya mampu tumbuh sebesar 4,92 persen. Suryamin mengatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut cenderung dipengaruhi faktor eksternal, dimana perekonomian global yang masih belum stabil sehingga berimbas ke Indonesia.
Selain itu, lanjut Suryamin, kondisi perekonomian global yang masih lemah dimana pertumbuhan ekonomi Cina mengalami penurunan dari 6,8 persen menjadi 6, persen dan pertumbuhan ekonomi AS yang hanya 2 persen menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Pada kuartal III 2016, Negara Adikuasa ini juga hanya mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi 3,5 persen.
Baca Juga: Investasi dan Konsumsi, Dua Faktor Stabilnya Pertumbuhan Ekonomi
Selama ini, pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia banyak ditopang oleh komoditas seperti kelapa sawit, minyak dunia, batubara, dan berbagai mineral tambang lain. Saat harga komoditas jatuh, perekonomian dunia juga lesu, berimbas kepada merosotnya permintaan impor komoditas Indonesia dari negara lain. Tak heran jika ekonomi Indonesia turut terseret lesu juga.
Berita Terkait
-
Pertumbuhan Ekonomi AS Q3 2016 Direvisi Jadi 3,5 Persen
-
Menperin Optimis Industri Makanan Minuman Jadi Motor Ekonomi RI
-
Kontribusi Industri 17,82 Persen Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
-
Ekonomi 2017 Diprediksi Masih lambat, Ini Jalan Keluar Menperin
-
Menperin: AS dan India Melirik Program Unggulan Jokowi
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Komisi IV DPR Bersama Bulog Dorong Peningkatan Kesejahteraan Petani Klaten
-
Emas di Rumah Jampidsus Lebih Berat dari Emas Monas
-
Kuota Produksi Batubara Akan Ditambah untuk Suap Pembangkit Listrik PLN
-
OJK: Konsumen Bisa Tuntut Finfluencer Secara Hukum
-
Pemerintah Pastikan Tak Ada Tambahan Kuota Produksi Nikel
-
Belanja Subsidi & Kompensasi Naik 44% ke Rp 233 T, Purbaya Akui Gegara BBM hingga Pelemahan Rupiah
-
Purbaya Kenang Tragedi Montara 2009, Janjikan Ganti Rugi ke Warga NTT
-
Masa Depan Koperasi di Era Digital Kini di Tangan Gen Z
-
Airlangga Bongkar Proyek Data Center Raksasa, Nvidia hingga Big Tech Masuk RI
-
Tiket Indomaret Fun Run 2026 Bisa Dibeli Lewat BRImo, Ada Diskon Rp 25 Ribu