Bisnis / Keuangan
Jum'at, 02 Januari 2026 | 18:51 WIB
Harga perak dan emas diperkirakan akan naik di awal 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Prospek harga perak dan emas diperkirakan menguat di awal 2026 berdasarkan analisis Brahmantya Himawan.
  • Kenaikan harga perak didorong statusnya sebagai logam mulia dan peningkatan permintaan sektor energi terbarukan.
  • Harga emas diprediksi menguat karena katalis utama penurunan imbal hasil riil obligasi Amerika Serikat.

Suara.com - Harga perak diperkiarakan akan melonjak pada tahun 2026 ini, bersama dengan terus meroketnya harga emas.

Analisis keuangan Finex, Brahmantya Himawan, menyampaikan bahwa memasuki awal 2026 prospek penguatan harga emas dan perak diperkirakan semakin konstruktif.

Brahmantya menjelaskan ada setidaknya tiga faktor yang membuat harga perak naik tahun ini. 

Pertama tentu saja karena ia termasuk logam mulia.

Kedua, perak juga termasuk komoditas industri. Menurut dia, permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik dan teknologi diperkirakan terus meningkat, mendorong harga perak lebih agresif.

Proyeksi harga perak pada 2026 berada di kisaran 90–120 dolar AS per troy ounce, atau sekitar Rp1,5 juta–Rp2 juta per gram.

Ketiga masuknya perak ke dalam daftar mineral kritis di Amerika Serikat semakin memperkuat prospek jangka menengah.

"Perak saat ini berada di persimpangan menarik antara kebutuhan industri dan minat investasi. Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, terutama saat siklus ekonomi bergeser,” ucap Brahmantya di Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Sementara emas diperkirakan masih akan menguat pada tahun ini. Kombinasi faktor moneter, dinamika geopolitik, serta meningkatnya kebutuhan industri menjadikan kedua logam mulia tersebut berpeluang melanjutkan reli yang lebih struktural dibanding siklus sebelumnya.

Baca Juga: Catatan Akhir Tahun: Emas Jadi Primadona 2025

Brahmantya menyebut harga emas diproyeksikan bergerak di kisaran 4.700–5.000 dolar AS per troy ounce pada 2026.

Dengan kurs rupiah sekitar Rp16.715 per dolar AS, proyeksi tersebut setara dengan Rp78,5 juta–Rp83,6 juta per troy ounce. Jika dikonversi ke dalam gram dan rupiah, harga emas menguat sekitar Rp2,52 juta–Rp2,69 juta per gram.

Brahmantya menilai penurunan imbal hasil riil obligasi AS menjadi katalis utama penguatan emas.

"Ketika real yield turun dan pasar melihat potensi pelonggaran moneter, emas secara historis selalu mendapat dorongan struktural. Kondisi saat ini sangat mirip dengan fase awal reli jangka panjang sebelumnya,” ujarnya.

Ia menegaskan dengan tren harga yang konstruktif, emas dan perak tetap relevan sebagai aset lindung nilai bagi investor jangka panjang.

Load More