- Wakil Menteri ESDM menjelaskan penyesuaian produksi batubara dan nikel akan disesuaikan kebutuhan industri dan RKAP.
- Penyesuaian tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga komoditas, bukan melakukan pemangkasan produksi secara keseluruhan.
- Upaya stabilisasi harga ini diharapkan mengoptimalkan keuntungan pengusaha sekaligus meningkatkan penerimaan negara.
Suara.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memberikan penjelasan terkait pemangkasan produksi batubara dan nikel yang rencananya diterapkan tahun ini.
Dia mengatakan rencana tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dan yang termuat dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan atau (RKAP).
"Jadi berapa kebutuhan industri di dalam negeri ya kemudian itu berapa kemampuan pasar. Jadi berapa yang diajukan oleh perusahaan untuk RKB ini kami akan sesuaikan," kata Yuliot saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Jumat (2/1/2026).
Dia pun mengklaim tidak ada pemangkasan produksi, melainkan penyesuaian kebutuhan demi menjaga stabilitas harga.
"Jadi tidak ada penurunan, tapi kami menyesuaikan dengan kebutuhan industri. Kalau over-produksi ini kan dampaknya adalah penurunan harga. Jadi, kita juga mengusahakan bagaimana industri bisa tetap berjalan," kata Yuliot.
Dengan upaya itu, menurutnya akan memberikan keuntungan bagi pengusaha tambang batubara dan nikel.
"Jadi tingkat keuntungan itu bisa dioptimalkan. Dan juga ujung-ujungnya adalah penerimaan negara," ujarnya.
Sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah berencana memangkas produksi batubara dan nikel. Hal itu ditujukan untuk menjaga stabilitas harga. Menurutnya dengan pemangkasan produksi, Indonesia bisa mengontrol harga menjadi lebih stabil.
Bahlil pun mencontohkan harga batubara yang turun drastis. Menurutnya hal itu disebabkan tingkat produksinya yang tinggi. Setidaknya, kata Bahlil, dari 1,3 miliar ton stok batubara global, hampir 50 persen berasal dari produksi dalam negeri.
Baca Juga: Tekan Impor LPG, ESDM Buka Wacana Beri Subsidi Penggunaan DME
" Indonesia sendiri menyuplai sekitar 500-600 juta ton. Hampir 50 persen. Bagaimana harganya enggak jatuh?," kata Bahlil pada 19 Desember 2025 lalu.
Berita Terkait
-
Bea Keluar Batu Bara Belum Berlaku 1 Januari 2026, Ini Bocoran Purbaya
-
Purbaya Kesal UU Cipta Kerja Untungkan Pengusaha Batu Bara Tapi Rugikan Negara
-
Reklamasi Terintegrasi, Wujud Komitmen Praktik Pertambangan yang Bertanggung Jawab
-
Iri dengan China? Trump 'Kebelet' Minta Harta Karun Mineral RI
-
Kemenkeu Matangkan Regulasi Bea Keluar Batu Bara, Berlaku 1 Januari 2026
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!