Koordinator Front perjuangan Rakyat (FPR), Rudi B Daman, mengatakan Kedatangan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence ke Indonesia pada 19-20 April 2017 merupakan usaha imperialis AS untuk semakin mengokohkan dominasi dan kontrolnya terhadap Indonesia serta regional Asia Pasifik. Pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membahas kelanjutan Kemitraan Strategis AS-Indonesia (yang pernah ditandatangani di tahun 2015) hanya bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negeri yang harus patuh terhadap dikte ekonomi, politik, dan keamanan imperialis AS.
"Krisis ekonomi global yang semakin memburuk akibat sistem dalam kapitalis global menjadikan imperialis AS menjadi semakin agresif untuk menguasai teritori bagi penguasaan bahan mentah (raw materials), menjalankan politik upah murah bagi pekerja, penguasaan pasar dan jalur perdagangan, dan perluasan kontrol militernya di seluruh negeri," kata Rudi dalam keterangan resmi, di Jakarta, Kamis (20/4/2017).
Krisis ini menjadikan Rusia dan Cina dipandang imperialis AS sebagai ancaman dominasi dan pengaruhnya di dunia. Saat ini AS semakin meningkatkan agresi dan intervensi militernya di dunia agar dapat di bawah kontrol dan dominasinya.
Dalam seminggu terakhir April 2017 ini, AS memprovokasi agar pecah perang di Semenanjung Korea dengan isu uji coba peluncuran senjata nuklir oleh Republik Demokrasi Rakyat Korea (DPRK). Maksud provokasi ini adalah menundukkan negeri dan rakyat Korea di bawah kontrol sepenuhnya AS.
Indonesia menjadi negeri penting bagi politik Asia Pivot (Poros Asia) imperialis AS untuk mendukung politik AS agar memudahkan kontrol regional dan keamanan.
"Semuanya bertujuan bagi keuntungan ekonomi, keuangan, dan perdagangan imperialis AS. Mike Pence memastikan Indonesia bisa mengikuti dikte AS sepenuhnya sesuai dengan ambisi keras rejim Donad Trump yang akan menguatkan dominasi AS di kawasan. Jelas, kedatangan Mike Pence akan menjadikan malapetaka lebih besar khususnya bagi rakyat Indonesia," jelas Rudi.
Rakyat Indonesia akan dituntut untuk menanggung beban krisis imperialis AS dengan meningkatkan penghisapan dan penindasan. Pemerintah sendiri melayani skema neo-liberal imperialis AS dengan mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi sejak September 2015 yang terdiri 14 jilid. Paket kebijakan tersebut hakekatnya mengintensifkan perampokan terhadap kekayaan alam, perampasan upah atau pendapatan rakyat, dan pasifikasi (pembodohan dengan menumbuhkan sikap pasif) terhadap rakyat Indonesia melalui kemudahan masuknya investasi atau import kapital asing ke Indonesia.
Dalam soal PT Freeport Indonesia, negosiasi pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat sesungguhnya tidak mendasarkan kepentingan dan aspirasi demokratis rakyat, khususnya rakyat Papua. Pemerintah Indonesia hanya menebar sikap nasionalisme palsu dibalik negosiasi yang seakan-akan tampak alot karena Indonesia tidak bersikap tegas menghentikan seluruh perpanjangan kontrak PT Freeport (yang berakhir tahun 2021). "Ini artinya, terus memperpanjang perampokan kekayaan alam dan perampokan terhadap rakyat," tutur Rudi.
Rudi menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia bersatu dalam perjuangan Anti-Imperialis AS tanpa henti dan seluruh kebijakan pemerintah (ekonomi, politik, kebudayaan, dan keamanan) yang merupakan implementasi skema neo-liberal dan neo-fasis imperialis Amerika Serikat yang ingin mengokohkan dominasi dan kontrolnya terhadap rakyat Indonesia.
Baca Juga: Jangan Biarkan Menteri ESDM Sendirian Hadapi Freeport
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
Terkini
-
Krisis Energi: Harga BBM Naik Ekstrem di Negara-negara Asia, Indonesia Waspada?
-
Dukung Perjalanan Finansial PMI, Bisnis Remitansi BRI Tumbuh 27,7% YoY Jelang Lebaran 2026
-
Harga Emas Antam di Bawah 3 Juta saat Lebaran, Cek Rincian Lengkapnya di Sini!
-
Cara Transfer BRI ke DANA Melalui BRImo, ATM, dan Internet Banking
-
IHSG Senin Pekan Ini Buka atau Tidak? Ini Jadwal Lengkap Libur Bursa
-
Harga Emas Pegadaian Turun Saat Lebaran, UBS dan Galeri 24 Anjlok!
-
Cara Mencari Lokasi ATM dan Kantor Cabang BRI Terdekat
-
Nominal Uang Pensiun DPR yang Resmi Dicabut MK
-
Jadwal dan Titik One Way Garut Selama Momen Idulfitri
-
Remitansi Pekerja Migran melalui BRI Lonjak 27,7 Persen di Momen Lebaran 1447 H