Sejumlah besar bank-bank global, perusahaan-perusahaan asuransi dan para manajer investasi bermaksud meningkatkan kemitraan mereka dengan perusahaan-perusahaan FinTech dalam 3 - 5 tahun mendatang dan mengharapkan rata-rata imbal hasil investasi sebesar 20 persen dari proyek-proyek inovasi mereka. Kesimpulan ini berasal dari menurut laporan PwC baru berjudul “Menggambar ulang garis-garis batas: Meningkatnya pengaruh FinTech terhadap Jasa Keuangan” (“Redrawing the lines: FinTech’s growing influence on Financial Services”).
Laporan tersebut, yang disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.300 responden secara global, nenunjukkan tanda-tanda jelas bahwa industri keuangan sedang berusaha menerima inovasi. Salah satu faktor pendorong di balik kemitraan ini adalah meningkatnya kekhawatiran di kalangan industri bahwa penghasilan mereka berisiko beralih ke FinTech mandiri, dimana 88 persen responden jasa keuangan melihatnya sebagai sebuah ancaman nyata (83 persen di tahun 2016). Rata-rata, hingga 24 persen penghasilan dianggap berisiko hilang.
Sebagai hasilnya, kesepahaman mulai terbentuk di antara kedua belah pihak – perusahaan-perusahaan FinTech rintisan memerlukan akses terhadap modal dan nasabah yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan jasa keuangan yang ada saat ini, dan perusahaan-perusahaan pembiayaan besar mulai memahami bagaimana FinTech mungkin merupakan solusi kunci yang akhirnya dapat memecahkan permasalahan lama seputar teknologi dan komunikasi nasabah.
David Wake, Financial Services Leader PwC Indonesia, menyampaikan urvei PWC menggarisbawahi bagaimana inovasi berasal dari luar jasa keuangan dan digerakkan oleh berbagai sumber termasuk perusahaan teknologi, perusahaan ritel elektronik, dan platform media sosial. "Dapat dipastikan bahwa pendekatan ini telah lazim diterapkan di beberapa pasar Asia. Pendekatan kemitraan yang baru tersebut menawarkan strategi-strategi alternatif baik bagi para pendatang baru maupun perusahaan-perusahaan rintisan, tetapi juga membawa serta serangkaian risiko baru,” kata David dalam keterangan resmi, Rabu (19/4/2017).
Manoj Kashyap, Global FinTech Leader PwC, mengatakan kerjasama dengan FinTech, dan inovasi secara lebih luas, bukan tentang mengikuti tren terkini – kerjasama ini adalah tentang mencari cara terbaik yang paling efisien untuk menjalankan strategi bisnis Anda dan pada akhirnya melayani pelanggan Anda dengan lebih baik.
“Dengan semakin eratnya kerjasama antara lembaga-lembaga keuangan dan para inovator, pelanggan akan mulai merasakan manfaatnya. Biaya dan frustrasi yang seringkali dihadapi oleh para pelanggan ketika berinteraksi dengan bank, perusahaan asuransi atau manajer investasinya diharapkan mulai berkurang seiring semakin terasanya manfaat bisnis yang ramping dan efisien, yang menghasilkan produk-produk berfokus konsumen yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” ujar Manoj.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa bermitra dengan perusahaan-perusahaan FinTech akan menjadi cara penting bagi firma-firma untuk mengalihdayakan bagian-bagian dari Riset & Pengembangan (R&D) dan mewujudkan strategi mereka, sehingga pada akhirnya memungkinkan mereka untuk menawarkan produk-produk baru kepada para pelanggan dengan lebih cepat.
Jasa keuangan seluler kini menjadi gerbang untuk mengakses populasi yang sebelumnya tidak terjangkau oleh bank. PwC memperkirakan bahwa penggunaan teknologi seluler untuk membantu pelanggan baru dalam mendapatkan akses terhadap jasa keuangan dapat membuka demografi bernilai 3 triliun bagi industri pembayaran.
Perusahaan-perusahaan rintisan yang menerapkan kecerdasan buatan (AI) pada jasa keuangan banyak menerima pendanaan, rata-rata sebesar 1 miliar Dolar AS setiap tahunnya selama dua tahun terakhir. Menurut data dari platform DeNovo PwCAI, lebih dari tiga per empat (77 persen) perusahaan jasa keuangan berencana menerapkan blockchain dalam sistem produksi live pada tahun 2020
Baca Juga: Ini Rahasia Pinjaman Macet UangTeman Tetap Rendah
"Pendanaan untuk perusahaan-perusahaan blockchain meningkat 79 persen year-on-year pada tahun 2016 menjadi 450 juta Dolar AS secara global. Hampir seperempat (24 persen) lembaga keuangan global mengatakan bahwa kini mereka ‘luar biasa’ atau ‘sangat’ akrab dengan teknologi blockchain," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Seragam Sekolah yang Layak Masih Jadi Mimpi Sebagian Anak Indonesia
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan