Suara.com - Kota Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap menjelma menjadi kawasan perkotaan lewat pemanfaatan Rencana Detil Tata Ruang (RDTR). Untuk mewujudkannya, digelar rapat pembahasan lintas sektor yang dihadiri oleh 16 kementerian dan lembaga, yang dipimpin oleh Direktur Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan Ruang Daerah, Sufrijadi.
"RDTR harus menjawab isu-isu strategis secara efektif dan aplikatif, sehingga di dalam forum ini diharapkan dapat menajamkan beberapa hal, terutama yang bersifat strategis," kata Sufrijadi, di Hotel 1O1 Dharmawangsa Jakarta, Selasa (7/11/2017).
Dalam rapat ini, Kasubdit Wilayah IV, Agustomi Masik, juga menyampaikan bahwa proses RDTR ini telah diajukan sejak Desember 2016, namun baru dibahas pada forum lintas sektor pada hari ini.
"Banyaknya hal-hal teknis dan administratif yang perlu dikawal, demi menjamin kualitas RDTR telah disusun," kata Tomi.
"Kualitas RDTR kami kawal hingga hal-hal detail, dimana tidak hanya lima substansi strategis yang kami periksa, namun sampai dengan garis besar rencana yang memeriksa silang antara muatan raperda-peta-peraturan zonasi-hingga matrix ITBX," lanjutnya.
Ada beberapa isu strategi yang memerlukan konfirmasi dari pemerintah daerah dan sektor terkait, seperti rencana pemanfaatan hutan yang akan dijadikan zona perumahan, kepastian tentang status Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), dan adanya potensi rawan bencana longsor yang termasuk resiko tinggi.
Rapat lintas sektor ini berhasil menjawab semua permasalahan yang timbul dalam proses evaluasi serta memberikan masukan-masukan yang menyempurnakan kualitas RDTR Kawasan Perkotaan Soe.
Berita Terkait
-
Waspada Fenomena Bulan Purnama, BMKG Prediksi Banjir Rob Kepung Pesisir NTT Hingga 2 Juni
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Studi: Model Iklim Saat Ini Dinilai Kurang Akurat Baca Dampak Perubahan Iklim di Perkotaan, Kenapa?
-
Pohon Tidak Lagi Cukup Jadi Solusi Atasi Panas Ekstrem di Perkotaan
-
Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Canggihnya Ambulans Universitas Sanata Dharma, Multifungsi dan Bisa untuk Operasi Ringan
-
Harga Avtur Turun 10 Persen Mulai 1 Juni
-
Bank Indonesia Bongkar Penyebab Rupiah Terus Tertekan
-
Kemenperin Minta Kaji Ulang Kemasan Polos Produk Tembakau
-
Bisnis Logistik Ikut Kecipratan Berkah Pariwisata Bali
-
LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan hingga September 2026, Apa Efeknya?
-
Pertamax Turbo Naik, Harga BBM Pertamax Tetap Dibanderol Rp 12.300
-
Airlangga Klaim Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Ganggu Ambisi RI Jadi Raja Kendaraan Listrik
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN