Suara.com - Ketua Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo mengecam keras kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang akan mengimpor beras sebanyak 500.000 ton. Kebijakan ini dinilainya merugikan keterserapan beras yang dihasilkan petani Indonesia.
"Kebijakan impor beras itu sebetulnya sudah ada pedomannya dalam UU No 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Disitu disebutkan bahwa impor diperbolehkan jika stok pangan memang tidak mencukupi," kata Firman saat dihubungi oleh Suara.com, Sabtu (13/1/2018).
Ia menegaskan bahwa dirinya sudah melakukan cek langsung kepada Menteri Pertanian serta berbagai komunitas pertanian yang ada di Indonesia. Hasilnya, saat ini pada bulan Januari dan Februari 2018, Indonesia justru memasuki puncak panen dari masa tanam yang dimulai Oktober 2017.
"Disisi lain, dalih Menteri Perdagangan kebijakan impor untuk meredam gejolak harga, ini sangat kontroversial," jelasnya.
Politisi Golkar tersebut mengkritik sikap Enggartiasto yang hanya mendengar masukan dari kalangan pedagang beras. Seharunya ia juga mendengarkan masukan dari pihak Kementerian Pertanian dan para petani sebelum memutuskan impor beras atau tidak.
"Ini akan menyulitkan penyerapan beras petani. Harga beras petani Indonesia akan kesulitan dengan harga beras impor. Karena beras impor kebanyakan berasal dari Thailand dan Vietnam yang mengalami kelebihan produksi. Ini disebabkan jumlah penduduk mereka sedikit sehingga kelebihan produksi beras mereka memang harus dibuang ke luar negeri," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa kebijakan impor beras 500.000 ton akan segera dilakukan. Enggartiasto mengatakan bahwa impor itu tidak akan mempengaruhi penyerapan petani beras Indonesia.
Politisi Nasdem tersebut menyatakan bahwa impor beras sebesar 500.000 ton tidak akan memakai uang dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut Mendag, sepenuhnya menggunakan uang dari importir yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) (PPI).
Baca Juga: Presiden Jokowi Jamin Tak akan Impor Beras Sampai Akhir 2016
Tag
Berita Terkait
-
Dolar AS Perkasa, Harga Referensi Emas Indonesia Periode II Mei 2026 Terkoreksi Tajam
-
Harga Referensi CPO Mei 2026 Naik 6,06 Persen, Bea Keluar Tembus 178 Dolar AS per MT
-
Target 4 Tahun Jadi 1,5 Tahun, DPR Puji Kecepatan Mentan Amran Wujudkan Swasembada Beras!
-
Kemendag Rilis 2 Aturan Baru, Perizinan Ekspor Kini Nggak Berbelit-belit
-
Harga CPO Melonjak, Harga Kakao Anjlok Tajam
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant
-
Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi
-
3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?
-
Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor
-
Percepat Akselerasi KEK di Indonesia, Wahyu Agung Group Jalani MOU dengan Perusahaan China