Suara.com - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) menyatakan mendukung dengan regulasi yang memberi kemudahan menjalankan usaha bagi koperasi. Koperasi di Indonesia harus tumbuh dan berkembang menjadi koperasi besar seperti di negara-negara lain.
"Pemerintah membuka peluang sebesar-besarnya bagi koperasi agar bisa besar seperti di negara lain," kata Menteri Koperasi dan UKM (Menkop dan UKM), Puspayoga, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-45 Kospin Jasa di Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (16/3).
Wali kota Pekalongan, Saelany Mahfudz dan sejumlah pengurus koperasi dari Forum Komunikasi Besar Indonesia. turut hadir dalam acara tersebut
Puspayoga menyatakan, sejumlah negara seperti di Selandia Baru, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Korea memiliki koperasi yang masuk dalam jajaran perusahaan terbesar di negaranya. Ia minta koperasi-koperasi memberi masukan kepada pemerintah tentang hal-hal yang diperlukan untuk menyusun regulasi terbaik bagi koperasi.
"Jangan lagi koperasi kecil terus. Koperasi sama dengan PT, harus bisa besar, tapi bersama-sama dengan anggota, " katanya.
Ia menegaskan dukungan pemerintah terhadap pertumbuhan koperasi yang sudah dilakukan sejak awal pemerintahan, pada 2014. Hal itu terlihat dari naiknya PDB koperasi dari 1,71 persen pada 2014 menjadi 4,48 persen tahun 2017.
"Pemerintah hadir dalam memberi regulasi untuk memudahkan koperasi menjalankan usahanya dan dapat berkembang seperti di negara lain, " kata Puspayoga.
Menteri mengatakan, Kospin Jasa menjadi salah satu contoh koperasi yang berhasil menjadi besar. Kospin Jasa juga telah menjadi tiga koperasi besar di Indonesia yang menyalurkan KUR.
Artinya, Kospin Jasa sudah setara bank, karena penyaluran KUR harus memenuhi sistem layanan informasi keuangan dari OJK.
Baca Juga: Kemenkop dan UKM Dorong Ekonomi Kreatif Generasi Milenial
*Hadapi Tantangan*
Sementara itu, Ketua Pengurus Kospin Jasa, Andi Arslan Djunaid, mengatakan, sepanjang 2018, Kospin jasa menghadapi banyak tantangan. Kondisi ekonomi nasional sedang mengalami perlambatan, akibat Pilkada 2018, bencana alam di berbagai daerah di kantor-kantor layanan Kospin Jasa, dan perkembangan ekonomi global yang sempat membuat nilai rupiah merosot.
Faktor-faktor tersebut membuat kinerja keuangan Kospin Jasa tahun buku 2018 tidak mencapai target, walau tetap mengalami pertumbuhan.
Pada layanan konvensional, aset tumbuh 4,12 persen dari Rp 6,4 triliun naik menjadi Rp 6,69 triliun. Simpanan sebesar Rp 4,7 triliun, dan pada 2017 mencapai Rp 5,7 triliun.
Adapun pinjaman tumbuh 0,8 persen, dari Rp 3,91 triliun pada 2017 menjadi Rp 3,94 triliun.
Kinerja layanan syariah terdiri dari aset mencapai Rp 1,61 triliun, naik 4,81 persen dari Rp 1,53 triliun pada 2017. Simpanan 2018 mencapai Rp 1,56 triliun, naik dari Rp 1,489 triliun dari tahun sebelumnya. Pembiayaan tumbuh 5,36 persen dari Rp 1,51 triliun menjadi Rp 1,59 triliun.
"Meski target secara umum tidak tercapai, kami berhasil mencapai SHU yang lebih tinggi pada 2018," kata Andi.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi
-
Mulai dari Tuban, Pertamina Gulirkan Pasar Murah Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok
-
Energi Terbarukan Kian Digenjot, Teknologi Baterai Jadi Kunci Atasi Fluktuasi Listrik
-
ASDP Tunda Alihkan Rute Kapal Ferry Bajoe-Kolaka, Ini Penyebabnya
-
Pertamina Raih Efisiensi Setelah Ubah Sistem Distribusi FAME Lewat Pipa
-
Perhatian! 18 Emiten Diusir BEI dari Pasar Modal RI, Ini Daftarnya
-
OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance
-
Siap-siap! Pergi ke Stadion JIS Bisa Naik KRL Mulai Juni
-
Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK
-
IHSG Tertekan Rekor Teburuk Kurs Rupiah, BBRI Jadi Salah Satu Rekomendasi Analis