Suara.com - Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir,menyatakan, berbagai dukungan pemerintah di atas membuat jumlah produksi berbagai komoditas terus merangkak naik. Untuk membantu memasarkannya dengan nilai jual yang lebih baik, KTNA terus berinovasi, salah satunya dengan menyiapkan KTNA Mart.
Ide ini bermula dari kegelisahan KTNA melihat kurang dipasarkannya olahan hasil pertanian Indonesia di pasar ritel. KTNA Mart diminta menjajakan minimal 30 persen produk pertanian lokal dan terus dinaikkan secara bertahap.
Sebagai contoh, produk lokal yang potensial dipasarkan, KTNA menghadirkan sejumlah UMKM yang mengolah hasil produk pertanian.
Salah satunya, Ibu Lasmi dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Jakarta Selatan, yang sangat terkenal keberhasilannya mengembangkan jamu gendong. Sayangnya, ia merasa kesulitan meluaskan pasar jamu racikannya, yang ia jamin keaslian dan kemurnian penggunaan bahan-bahannya, karena menggunakan bahan pengawet.
"Salah satu racikan saya uang mulai populer adalah sanapis, yaitu campuran sawi, nanas, dan jeruk nipis. Ini berkhasiat untuk melancarkan pencernaan, mencegah osteoporosis, menurunkan kadar kolesterol, dan bisa meredakan batuk. Tapi saya kesulitan masuk ke pasar ritel karena ada biaya-biaya yang memberatkan untuk UMKM," ujar Lasmi, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).
Ia berharap peningkatan produksi yang telah dicapai dengan segenap dukungan pemerintah melalui Kementan, dapat disinergikan dengan membuatkan sebuah wadah untuk memasarkan produk-produk hasil olahan hasil pertanian.
Bendungan bagi Para Petani
Sementara itu, sejumlah bendungan dan embung kini sudah berfungsi di seluruh Indonesia. Hal ini merupakan jaminan bagi para petani untuk bisa menjalani aktivitas pertaniannya dengan lebih mudah dan menguntungkan.
"Penyediaan air dari bendungan yang berjumlah 65 buah, ada yang sudah selesai, ada juga yang belum. Embung yang jumlahnya bisa mencapai 30 ribu di seluruh Indonesia dibuatkan untuk menghadapi El Nino. Jumlah ini bisa mengairi lahan pertania hingga empat juta hektare," ujarnya, dalam Sarasehan KTNA di Wisma Yampi, Jaksel.
Ia menambahkan, untuk sistem irigasi, pemerintah membantu memperbaiki saluran air yang rusak, membuatkan embung (waduk kecil), karena selama ini, lahan pertanian tidak sepenuhnya mendapat pengairan yang ideal. Sejak 2015, petani juga mendapatkan bantuan berupa subsidi benih.
Baca Juga: Kementan : LKMA Sebaiknya Beli Hasil Panen Petani dengan Harga Wajar
Untuk meningkatkan indeks pertanaman, dibantu dengan mekanisasi pertanian dari yang kecil hingga yang besar, termasuk dryer (mesin pengering) bagi petani jagung.Jumlahnya mencapai puluhan ribu unit. Winarno mengakui belum semua kelompok tani mendapatkan bantuan dalam bentuk alat mesin pertanian (alsintan), namun tak dipungkiri bahwa bantuan ini efektif menekan biaya tenaga kerja.
"Juga mesin panen. Potensi kehilangan saat panen sekarang berhasil diturunkan menjadi 3-4 persen. Ke depan, kita targetkan 2-3 persen, bahkan seperti di Jepang, 1-2 persen saja. Kita optimalkan di operatornya, nanti diberi pelatihan dan pembekalan lagi," jelas Winarno.
Ia menggambarkan, dulu saat panen masih menggunakan cara tradisional menggunakan arit, kehilangan saat panen mencapai 10 persen karena rontok. Berapa persen yang terselamatkan setelah adanya bantuan mekanisasi bisa dengan mudah dihitung, dan menurutnya, ini menjadi keutungan langsung bagi petani.
"Untuk menghadapi El Nino tahun ini, kita juga Insya Allah lebih siap dengan bantuan perbaikan irigasi dan embung. Harapannya, El Nino 2019 tidak terlalu berdampak pada pertanian," tambahnya optimistis.
Risiko bertani kini juga relatif lebih kecil setelah ada bantuan asuransi pertanian. Saat ini memang baru sebatas petani padi dan ternak, ke depan, ia mendapat kepastian akan dilebarkan juga ke petani jagung dan komoditas lainnya.
"Manakala petani menghadapi risiko pertanaman, ini berguna untuk meminimalisir kerugian. Dengan membayar Rp 36 ribu saja, saat gagal panen mendapat penggantian 36 juta rupiah," tambahnya.
Ada pula permasalahan dulu selalu menghantui petani, tetapi kini sudah ada solusinya. Panen di musim hujan selalu mengakibatkan hasil tani tidak terjual bahkan busuk.Kini pemerintah mengarahkan petani agar panen di waktu yang tidak bersamaan.
Dalam hal stabilisasi harga, Winarno berharap pada peran penting Bulog, agar dapat menyerap hasil panen, untuk melindungi petani dari kerugian besar.
"Satu lagi, kami juga merasa dilindungi dari serbuan produk impor. Kami apresiasi hal ini sebagai keberanian Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk membatasi impor hasil produk pertanian," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026