Suara.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China terus memanas. Kedua negara pun melakukan aksi serangannya masing-masing. Dilansir Reuters, Presiden Donald Trump menyebut China sebagai pembunuh kesepakatan. Pasalnya, China akan berhenti membeli produk pertanian AS.
Selain itu, China juga menahan ekspor bahan kimia ke AS. Padahal, bahan kimia tersebut merupakan bahan membuat segala peralatan mulai i-Phone hingga peralatan militer.
Namun, trump mengatakan bahwa reaksi pasar telah diantisipasi, tetapi ia tetap percaya diri pada kekuatan ekonomi AS.
"Pada akhirnya, itu akan menjadi jauh lebih tinggi daripada yang pernah terjadi, karena China seperti jangkar pada kita. China membunuh kami dengan kesepakatan dagang yang tidak adil," ujar Trump.
Tensi Perang perdagangan AS-China meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah AS pada Senin mencap Beijing sebagai manipulator mata uang untuk pertama kalinya sejak 1994, dan akan memberlakukan tarif 10 persen pada sisa 300 miliar dolar AS impor China, mulai 1 September.
Langkah-langkah itu membuat pasar keuangan goyah dan memicu kekhawatiran tentang resesi global.
Imbal hasil AS turun pada hari Rabu, dengan imbal hasil 30 tahun mendekati rekor terendah, di tengah meningkatnya kekhawatiran penurunan global dan taruhan Federal Reserve harus memangkas suku bunga lebih jauh untuk menghadapi risiko resesi yang semakin besar.
Para pejabat Gedung Putih masih mengharapkan para perunding China datang ke Washington pada bulan September untuk mengadakan pembicaraan, dan bahwa tarif terbaru masih dapat dihindari jika dua ekonomi terbesar dunia itu membuat kesepakatan dalam perjanjian perdagangan.
Akan tetapi harapan untuk kesepakatan meredup dan tekanan domestik tumbuh untuk Trump untuk memutuskan kesepakatan dengan Beijing.
Baca Juga: Imbas Perang Dagang AS-China, Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut
Berita Terkait
-
Permintaan Melemah, Air China akan Hapus Penerbangan Rute Beijing-Hawaii
-
Ingin Produk Amerika Berjaya, Donald Trump Ancam Sektor Otomotif Eropa
-
Perang Dagang Ancam Pertumbuhan Ekonomi Global, Sri Mulyani: Waspada
-
Perang Dagang AS-China Malah Makin Memanas
-
Beda Pendapat dengan Trump Soal Rusia, Kepala BIN Amerika Mundur
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN