Suara.com - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun ini hanya akan mencapai 5,1 persen. Angka ini jauh dari target pemerintah dalam APBN 2019 yang mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.
"Core bahkan meyakini pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 ini tidak akan mencapai 5,1 persen atau lebih rendah dibanding capaian pertumbuhan tahun 2019," kata Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal dalam acara Core Economic Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (20/11/2019).
Meski begitu, kata Faisal, sejumlah indikator ekonomi sepanjang tahun ini bisa dijaga dengan dengan baik, semisal indikator tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka, rasio gini dan tingkat inflasi.
"Namun capaian yang lain masih menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Yang paling kentara adalah realisasi pertumbuhan yang jauh dari target serta defisit transaksi berjalan yang justru semakin lebar," paparnya.
Dia bilang ketidakpastian ekonomi global yang meningkat menjadi biang keroknya, karena dinamika geopolitik global dan perang dagang yang terjadi beberapa tahun terakhir menjadi pemicu utama dari ketidakpastian ekonomi global.
"Memang tekanan kenaikan harga minyak sudah reda dan banyak negara tahun ini telah melakukan pelonggaran moneter dan fiskal termasuk AS, tapi ketidakpastian Perdagangan dunia justru meningkat tajam sejalan dengan makin meluasnya efek perang dagang," kata Faisal.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, stabilitas ekonomi Indonesia masih tetap terjaga di tengah prospek perlambatan pertumbuhan perekonomian global.
Menurut Menkeu, di saat ekonomi global tahun ini diproyeksikan tumbuh 3,0 persen atau terrendah sejak krisis keuangan global tahun 2008, kondisi di dalam negeri secara year-over-year Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia triwulan III masih tumbuh 5,02 persen sebagaimana dilaporkan Badn Pusat Statistik (BPS).
“Pertumbuhan ekonomi didukung oleh Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang masih tumbuh di atas 5 persen. Kemudian penerimaan ekspor sudah menunjukkan kinerja positif dengan tumbuh sebesar 0,02 persen,” kata Sri Mulyani.
Baca Juga: Data BPS soal Pertumbuhan Ekonomi Diragukan Ekonom Asing, Istana Buka Suara
Sementara itu, dia memaparkan, neraca perdagangan juga sudah mengalami surplus pada Oktober 2019, membaik dari bulan sebelumnya yang mengalami defisit. Demikian juga dengan net ekspor yang sudah mulai positif pada triwulan III tahun 2019, seiring dengan perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang didorong oleh penurunan defisit transaksi berjalan dan peningkatan surplus transaksi modal dan finansial.
“Kondisi tersebut diyakini akan memberikan pondasi kuat terhadap perkembangan ekonomi nasional hingga akhir tahun ini dan juga tahun depan,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
BRI Dorong Inklusi Keuangan dan UMKM Lewat Teras Kapal di 4 Wilayah Kepulauan
-
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris PT Telkom
-
Borong Penghargaan HR Asia 2026, PT Pegadaian Jadi Best Company to Work For in Asia untuk ke-8 Kali
-
Dorong Kenyamanan Wisata Bali, BTN Ekspansif Dorong Bale Untuk Permudah Transaksi
-
RUPS PT Telkom Setujui Dividen Rp21,9 Triliun dan Buyback Saham Rp4 Triliun
-
Hak Ekspor CPO Milik Eksportir Masih Berlaku, Tak Direbut PT DSI
-
OJK dan CFX Dorong Inovasi dan Regulasi Adaptif di Industri Aset Kripto
-
CFX Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Perkuat Literasi Aset Kripto dan Blockchain Nasional
-
IDRX: Stablecoin Rupiah Penting untuk Menjaga Kedaulatan Digital Indonesia
-
Regulasi Kripto Sudah di Level UU, DPR Sebut Indonesia Selangkah Lebih Maju