Suara.com - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menetapkan jajaran Komisaris dan Direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Salah satunya, mengembalikan Peter F Gontha menjadi Komisaris maskapai pelat merah itu.
Sebelum menjadi Duta Besar RI di Polandia, Peter F Gontha pernah memegang jabatan Komisaris dalam rentang 2011-2014. Ia pun menyambut baik, penunjukan kembalinya sebagai pengawas kinerja Direksi Garuda Indonesia.
Terlebih menurut Peter F Gontha, Garuda Indonesia memiliki masalah yang pelik sejak lama, bahkan sejak saat maskapai penerbangan nasional itu menjadi perusahaan terbuka.
Lewat media sosialnya, Peter F Gontha bercerita perjalanan bisnis Garuda Indonesia hingga sahamnya dibeli oleh mantan Menko Perekonomian Chairul Tanjung (CT).
Pada 2011, Menteri BUMN yang kala itu dijabat Mustafa Abubakar memutuskan Garuda Indonesia jadi perusahaan terbuka, dengan harga penawaran awal sebesar Rp 750 - Rp 1.100 per lembar saham.
Awalnya, saham tersebut akan diborong oleh Muhammad Nazarudin yang saat itu menjadi Bendahara Partai Demokrat. Namun, setelah mengetahui harga saham terlalu mahal, Nazarudin pun menghilang dan tak menepati janjinya untuk membeli saham Garuda Indonesia.
"Untuk tidak hilang muka, pemerintah meminta kelompok perusahaan pimpinan Chairul Tanjung (CT), untuk datang menjadi dewa penyelamat," ujar Peter F Gontha dalam keterangannya, seperti ditulis, Kamis (22/1/2020).
"Akhirnya CT setuju membeli saham Garuda sebanyak 29 persen dengan harga total sekitar 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,5 triliun dengan harga saham rata-rata Rp 600 - Rp 650," tambahnya.
Atas pembelian saham itu, seharusnya pihak CT mendapatkan dua slot untuk jajaran direksi dan komisaris. Tapi kenyataannya, CT hanya mendapat jatah dua komisaris yaitu Peter F Gontha dan Chris Kanter.
Baca Juga: 3 PR Besar Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dari Erick Thohir
"Namun CT hanya mengelus dada. Kami telah sampaikan pendapat kami untuk tidak membeli saham Garuda, tapi CT katakan, biarlah kita bantu perusahan ini, perusahaan yang membawa bendera merah putih ke mancanegara," jelas dia.
Bukannya untung membeli saham Garuda Indonesia, CT justru buntung. Buktinya, hingga saat ini harga saham perseroan terus turun, dan bertengger di kisaran Rp 400-an per lembar saham.
Bahkan, pada era Rini M Soemarno, jatah Komisaris dari pihak CT dikurangi yang tadinya dua komisaris hanya mendapat jatah satu komisaris saja.
"Di dalam perjalanannya Garuda membaik, namun harga saham tetap hanya bertengger dikisaran Rp 450 atau kerugian 200 per saham sementara CT dikatakan merauk keuntungan ratusan miliar rupiah. Pada hari ini CT Corp melalui investasi saham, bunga dan perbedaan kurs (pada waktu itu kurs dolar Rp 11.000) telah menginvestasi sekitar Rp 7 triliun dan mengantongi rugi sekitar Rp 3,5 triliun," jelas dia.
Dengan hasil kinerja yang buruk itu, Peter F Gontha menilai wajar jika selama ini ia mengeluhkan kinerja para direksi.
Kendati begitu, pihaknya akan mengawasi dengan benar, hal ini agar manajemen Garuda yang baru tak bisa main-main seperti sebelumnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026