Suara.com - Harga minyak mentah dunia merosot pada Kamis kemarin karena kekhawatiran pasokan dan permintaan global sehingga menghapus kenaikan sebelumnya yang terlihat dari peningkatan harga jual minyak mentah resmi Arab Saudi.
Mengutip Reuters Jumat (8/5/2020) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup turun 26 sen, atau 0,9 persen, menjadi 29,46 dolar AS per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, kehilangan 44 sen, atau 1,8 persen, menjadi 23,55 dolar AS per barel.
Di awal sesi, Brent melesat lebih dari 5 persen dan WTI melambung lebih dari 10 persen. Untuk pekan ini, Brent masih naik sekitar 11 persen dan WTI menguat sekitar 18 persen.
Kedua tolok ukur itu meningkat tajam pekan ini karena sejumlah negara mulai melonggarkan penguncian terkait virus corona dan permintaan bahan bakar mencatat rebound moderat. Produksi minyak di seluruh dunia juga menyusut untuk mengurangi kelebihan pasokan.
"Kita terus berada di pasar yang bergejolak dan penurunan harga kali ini tidak mengejutkan saya. Saya pikir ada beberapa aksi ambil untung," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.
"(Berita harga) Saudi memberikan dukungan di awal sesi, tetapi kita masih memiliki hambatan signifikan dalam hal ekonomi, permintaan dan penyimpanan," tambah Kilduff.
Persediaan minyak mentah AS di pusat penyimpanan Cushing di Oklahoma naik sekitar 407.000 barel dalam sepekan hingga 5 Mei, kata para pedagang mengutip data Genscape.
Klaim pengangguran AS, di sisi lain, terus meningkat, meski pada kecepatan yang lebih lambat dengan 3,2 juta orang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir hingga 2 Mei. Angka terbaru itu menjadikan total klaim sekitar 33 juta sejak 21 Maret.
Baca Juga: DPR : Harga BBM harus Segera Diturunkan
Analis Rystad Energy memproyeksikan permintaan minyak global akan merosot 10,9 persen pada 2020 menjadi 88,7 juta barel per hari (bph) dari sekitar 99,5 juta bph pada 2019.
Pekan lalu, konsultan energi itu memperkirakan permintaan tahun depan rata-rata 88,8 juta barel per hari.
Harga minyak jauh lebih tinggi pada awal sesi menyusul laporan dari Arab Saudi tentang harga minyak mentah serta data impor dan ekspor di China.
Arab Saudi menaikkan harga jual resmi (OSP) untuk Juni setelah memotong ekspor Mei ke level terendah dalam hampir satu dekade menyusul kesepakatan produsen global untuk mengurangi output guna menopang harga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Nilai Tukar Rupiah Menguat Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia
-
Terjebak di Jalur Neraka Hormuz, Begini Nasib 2 Kapal Raksasa Pertamina
-
Fokus Eksekusi Strategi TLKM 30, Telkom Dorong Penguatan Fundamental dan Tata Kelola Perusahaan
-
Kalang Kabut! Purbaya Terhimpit, Bahlil Terjepit
-
Efek Ramadan, Penjualan Eceran Februari 2026 Diproyeksi Naik 4,4 Persen
-
Mengapa Konsumen Indonesia Tetap Optimistis saat Konflik Timur Tengah Bikin Dunia Gelisah?
-
Bahagia Terima BHR, Pengemudi Ojol: Bisa Buat Keperluan Anak
-
Pemerintah: Harga BBM Tidak Akan Naik hingga Lebaran
-
Jadwal dan Rute Jalan Tol Diskon selama Mudik dan Arus Balik 2026
-
THR Sudah Cair? Begini Cara Kelolanya Agar Dompet Gak Kiamat Usai Lebaran