Selain itu, musim hujan juga mengundang bakteri dan jamur penyebab berbagai macam penyakit tanaman.
"Saya pernah mengalami gagal panen 50 persen karena hujan lebat seminggu sebelum panen," keluhnya.
Musim tanam harus diselingi tanaman lain di lahan yang sama setelah panen sebagai upaya memutus rantai hidup hama dan penyakit tanaman melon.
"Lahan tanaman melon tidak boleh ditanaman berturut-turut, setelah panen lahan harus ditanam komoditi tanaman lainnya seperti jagung," imbuhnya.
Namun semenjak tahun 2018, Anto mulai berkomitmen untuk menjalankan pertanian organik. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan berbagai macam bahan kimia sebagai pupuk dan pestisida.
Alasan utamanya untuk kesehatan, menjaga keseimbangan ekosistem, menjaga kualitas kesuburan tanah dan biaya yang lebih irit.
Pupuk kimia yang digunakan terus-menerus akan membuat tanah menjadi keras. Pupuk organik cenderung memperkaya biota (makluk kecil) tanah.
Pestisida kimia akan mempengaruhi kesehatan konsumen dan merusak keseimbangan ekosistem karena pestisida kimia cenderung memberantas populasi hama. Pestisida organik cenderung mengusir dan mengurangi intensitas penyerangan.
Hasil panen melon biasanya dipasarkan ke para pengepul di Pekanbaru, Padang, Medan dan Batam. Saat ini ia sudah bekerjasama dengan Indomaret. Jenis Melon yang dibudidayakan yaitu melon putih (sky), kuning (rock) dan golden (kinanty).
Baca Juga: Gampang Banget, Ini Tips Pilih Semangka dan Melon yang Sudah Matang
Melon putih dan kuning memiliki harga Rp 4.500 – 6.500. Melon golden Rp 10.000 - 12.000. Produksi melon yang dihasilkan sekitar 16 ton per hektar.
"Jika saya tanam setengah hektar melon golden saja, saya bisa menghasilkan 8 ton maka penghasilan yang didapat sekitar Rp 80 juta," ungkap Anton.
Anto pun berharap ingin memiliki lahan sendiri karena saat ini hanya menumpang dan sewa lahan sehingga ia bebas bisa terus menjalankan pekerjaannya sebagai seorang petani.
Selain itu, ia juga berharap pemerintah untuk lebih peka kepada petani. Anto ingin ada sosialisasi, pelatihan dan bantuan untuk para petani konvensional agar pertanian di Indonesia bisa maju mengikuti perkembangan zaman.
"Selagi dunia ini belum berakhir maka manusia masih butuh makan, mungkin saat ini banyak generasi muda yang memandang sebelah mata pertanian, tapi nyatanya jika tidak ada pertanian tidak ada kehidupan," tukas dia.
Berita ini sebelumnya dimuat Riauonline.co.id jaringan Suara.com dengan judul "Berawal Dari Menumpang Baca, Anto Raup Rp 80 Juta Per 60 Hari Dari Melon"
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- 5 Pilihan Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah, Kualitas Awet dan Hemat Listrik
Pilihan
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
Terkini
-
PLN, MEBI, dan HUAWEI Resmikan SPKLU Signature dengan Ultra-Fast Charging dan Split Charging Pertama
-
Harga Cabai Masih 'Pedas', Bapanas Siapkan Intervensi
-
Kemendag Keluarkan Harga Patokan Eskpor Komoditas Tambang, Ini Daftarnya
-
Menkeu Purbaya Resmi Alihkan Dana Desa Rp34,5 T ke Koperasi Merah Putih
-
Pabrik Alas Kaki di Jombang Pakai PLTS, Kapasitas Tembus 3,7 MWp
-
Bisnis Emas BSI Melesat 100 Persen dalam 8 Bulan
-
Pengangguran Menurun, Tapi 50 Persen Tenaga Kerja Masih 'Salah Kamar'
-
Rating Indonesia Turun, Purbaya Serang Balik: Saya Ingin Membuat Reputasi Moody's Jeblok
-
Emiten BFIN Andalkan Program Loyalitas Dongkrak Pembiayaan Mobil Bekas
-
Dalih Purbaya Bikin Defisit APBN Nyaris 3 Persen: Kalau Tidak Kita Bisa Jatuh Seperti 1998