Suara.com - Merek produk perlengkapan outdoor terkemuka, Eiger sedang menjadi perbincangan setelah melayangkan surat kepada seorang YouTuber yang mengulas produknya. Terlepas dari hal itu, kalian perlu tahu fakta tentang Eiger, produk lokal Indonesia yang kini mendunia.
Bangga menggunakan produk Indonesia, jadi langkah sederhana dalam menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang bisa dilakukan oleh semua orang. Produk-produk dalam negeri ini kini juga tak hanya sekedar ada, namun juga benar-benar berkualitas.
Contohnya adalah Eiger, nama besar di industri perlengkapan rekreasi luar ruang ini ternyata merupakan salah satu brand asli Indonesia. Fakta tentang Eiger sendiri sepertinya masih belum diketahui, selain tentu kualitas produknya yang bisa diandalkan.
1. Fakta tentang Eiger, Produk Asli Indonesia
Mungkin pengguna produk Eiger sendiri belum tentu paham bahwa produk berkualitas yang digunakannya adalah produk asli Indonesia. Eiger diciptakan pada tahun 1990 oleh Ronny Lukito.
Riset produk dan strategi pemasaran yang tepat menempatkan produk Eiger sejajar dengan produk serupa dari sisi kualitas dan harga yang bersaing. Toko resmi Eiger sendiri dibuka pertama kali di Cihampelas, Bandung, pada tahun 1994 silam.
Hingga saat ini, produk-produk Eiger sendiri banyak menjadi pilihan pegiat olahraga dan aktivitas luar ruang yang berada di area tropis. Tidak hanya karena harganya yang bersaing, kualitas yang dimiliki juga tidak kalah dengan pabrikan luar negeri.
2. Terinspirasi dari Nama Gunung Di Swiss
Fakta tentang Eiger yang lain adalah latar belakang penamaan yang diberikan sang pemilik, Ronny Lukito. Eiger sendiri merupakan nama salah satu gunung di Swiss yang terkenal sulit ditaklukkan, dan memerlukan keahlian tinggi ketika mendakinya.
Baca Juga: Viral Komplain Eiger ke YouTuber karena Review, Padahal Enggak Diendorse
Dari filosofi tersebut, produk Eiger kemudian dikembangkan agar dapat digunakan di berbagai medan sulit dan membantu pegiat aktivitas luar ruang untuk menaklukkan tantangan yang ditemuinya.
3. Diuji oleh Pakar Berpengalaman dan Proses yang Panjang
Kualitas dari produk Eiger sendiri tidak perlu diragukan lagi. Sebelum produknya dilepas ke pasar, pihak Eiger terlebih dahulu melakukan riset dan percobaan.
Hal ini didukung oleh para brand ambassador yang sekaligus berperan sebagai peneliti lapangan, untuk mencoba dan melakukan berbagai tes pada produk terbarunya. Serangkaian tes yang dilakukan adalah dengan menggunakan produk dummy turun secara langsung ke lapangan untuk diuji.
Setelah selesai melakukan kegiatan atau ekspedisi, kemudian brand ambassador ini akan memberikan masukan pada produk yang sudah digunakan. Kemudian, pihak Eiger akan melakukan perbaikan sesuai dengan masukan yang ada.
Tidak main-main, penelitian dan pengembangan produk bisa memakan waktu hingga lebih dari dua tahun sebelum secara resmi dilepaskan untuk dipasarkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- Adly Fairuz Nyamar Jadi Jenderal Ahmad, Tipu Korban Rp 3,6 Miliar dengan Janji Lolos Akpol
- Inara Rusli Lihat Bukti Video Syurnya dengan Insanul Fahmi: Burem, Gak Jelas
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Perpanjangan PPN DTP 100 Persen, Rumah Tapak di Kota Penyangga Jadi Primadona
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK