- Risiko downgrade peringkat utang jika bunga utang tembus 15% pendapatan.
- Sri Mulyani tegaskan stabilitas fiskal syarat mutlak cegah krisis.
- Prospek RI turun jadi negatif akibat risiko tata kelola & fiskal.
Suara.com - Belum kering lisan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan peringatan soal pentingnya disiplin fiskal, lembaga pemeringkat internasional sudah lebih dulu memasang "radar" merah bagi ekonomi Indonesia.
S&P Global Ratings kini terang-terangan menyoroti beban utang yang kian mencekik kantong negara.
Lembaga pemeringkat global tersebut mewanti-wanti adanya potensi penurunan peringkat utang Indonesia jika tekanan fiskal tak segera diredam. Titik krusialnya ada pada satu variabel yakni biaya pembayaran bunga utang yang terus membengkak.
Analis S&P Global Ratings, Rain Yin, memproyeksikan pembayaran bunga utang Indonesia sangat mungkin melampaui ambang batas psikologis 15 persen dari total pendapatan pemerintah tahun lalu. Jika angka ini terus nangkring di level tinggi secara berkelanjutan, jangan kaget jika rapor kredit Indonesia bakal memerah.
"Jika tetap di atas ambang batas secara berkelanjutan, hal itu dapat memicu pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit tersebut," tulis Rain Yin dalam laporannya, dikutip Jumat (27/2/2026).
Meski saat ini S&P masih mempertahankan prospek stabil pada peringkat BBB Indonesia, namun "kerikil" di sepatu fiskal RI mulai terasa nyata. S&P tidak sendirian, sebelumnya Moody's Ratings Inc. sudah lebih agresif dengan mengubah prospek peringkat Baa2 Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Moody's terang-terangan menyebut melemahnya tata kelola dan risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi alasan utama di balik sikap skeptis mereka.
Peringatan lembaga global ini seolah mengonfirmasi kekhawatiran yang sempat dilontarkan Sri Mulyani dalam diskusinya di Oxford Policy Pod baru-baru ini. Perempuan yang akrab disapa Ani itu menegaskan bahwa disiplin fiskal bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi agar negara tidak karam.
"Banyak negara sudah meninggalkan batasan tersebut. Tetapi sejarah menunjukkan, negara yang tidak memiliki disiplin fiskal pada akhirnya akan menghadapi kesulitan," tegas Sri Mulyani.
Baca Juga: Beban Bunga Utang Naik, S&P Ingatkan Indonesia Bisa Turun Peringkat
Ia mengingatkan bahwa meskipun Indonesia memiliki aturan ketat seperti defisit di bawah 3 persen PDB dan rasio utang maksimal 60 persen hal itu hanyalah "pintu masuk". Stabilitas fiskal adalah syarat mutlak (necessary condition), namun bukan jaminan otomatis untuk menjadi negara maju.
Menjaga "dompet negara" memang bukan perkara mudah, apalagi di tengah ambisi politik yang besar untuk membangun infrastruktur dan sumber daya manusia. Sri Mulyani mengakui sering terjadi benturan antara keinginan politik dengan realitas anggaran.
Baginya, kunci menghadapi tekanan ini adalah kredibilitas dan kebijakan berbasis data (evidence-based policy). Tanpa desain kebijakan yang kuat secara teknokratis, sulit bagi pemerintah membangun kepercayaan di tengah spektrum politik yang beragam dan tuntutan lembaga internasional yang kian ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi