Suara.com - Kolaborasi pendirian pabrik vaksin COVID-19 jenis mRNA yang melibatkan perusahaan Indonesia dengan China diklaim ekonom akan menciptakan peluang kerja dan penyerapan tenaga kerja.
"Diharapkan pabrik itu tidak hanya memproduksi vaksin COVID-19 saja melainkan harus mampu memberikan ruang penelitian bagi produksi vaksin lainnya, sehingga upaya penguatan sektor kesehatan dari sisi ketersediaan vaksin lebih terjamin," kata Ekonom senior dari Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Hisar Sirait di Jakarta, Rabu (25/8/2021).
Ia menyebut, ada beberapa catatan terkait arus investasi asing atau foreign direct investment di sektor farmasi melalui rencana pendirian pabrik vaksin tersebut.
Pertama, teknologi pengembangan vaksin yang dibawa masuk harus memiliki jaminan alih teknologi ke pihak Indonesia. Dalam waktu dua tahun teknologinya harus sudah dialihkan ke Indonesia.
Kedua, kesempatan riset dan pengembangan vaksin harus dipastikan agar ahli-ahli Indonesia memiliki kesempatan untuk melakukan riset internasional.
Pemerintah perlu memastikan keterlibatan ahli Indonesia mulai dari perencanaan, pendirian dan produksi, sehingga dengan mekanisme ini proses alih teknologi dapat dicapai.
Ketiga, pihak swasta dan produsen vaksin domestik harus diberi peran juga agar efek berganda dari pendirian pabrik kolaborasi Indonesia - China bisa memberikan dampak yang besar dalam rangka penguatan sektor kesehatan, terutama ketersediaan berbagai produk vaksin.
Dikabarkan sebelumnya, pemerintah menyatakan akan memproduksi dua jenis vaksin COVID-19 untuk menyuplai kebutuhan dalam negeri mulai tahun depan.
Pada April 2022, Indonesia akan memproduksi vaksin jenis mRNA yang dilakukan atas kolaborasi perusahaan Indonesia dengan perusahaan China.
Baca Juga: Kerap Muncul Kerumunan, Ini Syarat Wajib Gelar Vaksinasi Massal di Palembang
Kemudian, pada Mei-Juni tahun depan, vaksin lokal dengan merek Merah Putih yang dikembangkan lima universitas dan dua institusi juga akan diproduksi untuk memenuhi pasokan vaksin di Tanah Air.
Hisar menilai komitmen pemerintah untuk memproduksi kedua jenis vaksin dalam waktu yang hampir bersamaan merupakan langkah yang bijak dalam meningkatkan ketersediaan vaksin di dalam negeri.
Dia berharap produsen vaksin Merah Putih bisa berkolaborasi dengan pabrik yang akan didirikan, bekerja sama dalam aspek pengembangan metode melalui riset bersama.
"Jika memungkinkan produsen vaksin Merah Putih bergandengan tangan dengan pabrik vaksin yang akan didirikan tersebut melalui kolaborasi iptek dan sarana prasarana," ucapnya.
Hisar juga menyarankan agar pendirian pabrik vaksin harus mampu menciptakan sinergitas dengan Bio Farma sebagai perusahan pelat merah yang bergerak dalam bidang farmasi. Antara
Berita Terkait
-
Krisis Covid-19 di Thailand: Akan Lebih Banyak Orang Meninggal di Rumah
-
Dosis Ketiga Alias Booster: Efektif atau Cuma Buang-buang Vaksin Covid-19?
-
Gelombang Kedua Covid-19 di RI Sudah Lewat, Sri Mulyani Tenang
-
Klaim BOR RS Covid-19 Turun 22 Persen, Anies: Seperempat yang Dirawat Warga Luar Jakarta
-
Percepat Kekebalan, Australia Pertimbangkan Vaksinasi Covid-19 Per Keluarga
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari