- Rupiah ditutup melemah 0,11 persen ke Rp16.798 per USD pada penutupan perdagangan 8 Januari 2026.
- Pelemahan rupiah sejalan dengan tren melemahnya mayoritas mata uang di kawasan Asia hari itu.
- Sentimen pemangkasan suku bunga oleh BI diperkirakan masih menekan rupiah menjelang akhir pekan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum bangkit dari penutupan Kamis, 8 Januari 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.798 per USD
Alhasil, rupiah melemah 0,11 persen dibanding penutupan pada Rabu yang berada di level Rp 16.780 per USD
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.801 per USD.
Saat ini pergerakan mata uang di Asia cenderung melemah. Salah satunya, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,33 persen.
Selanjutnya ada dolar Taiwan yang ditutup anjlok 0,3 persen dan won Korea Selatan yang tertekan 0,25 persen.
Diikuti oleh dolar Singapura dan ringgit Malaysia yang sama-sama terkoreksi 0,12 persen. Disusul, rupee India yang turun 0,09 persen. Kemudian ada dolar Hongkong yang terlihat melemah tipis 0,04 persen terhadap the greenback pada sore ini.
Sementara itu, peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,28 persen.
Diikuti, yen Jepang yang naik 0,17 persen dan yuan China yang menguat 0,12 persen pada perdagangan hari ini.
Sentimen Pelemahan Rupiah
Baca Juga: Rupiah Masih Lemas, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah juga terjadi di beberapa mata uang Asia lainnya. Hal ini seiring dengan sentimen lokal dan luar negeri yang menekan rupiah.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat. Data yang menunjukkan kenaikan yang cukup besar cadangan devisa Indonesia tidak terlalu memberikan dukungan pada rupiah, secara rupiah masih terbebani oleh prospek pemangkasan suku bunga oleh BI," katanya saat dihubungi Suara.com
Dia memperkirakan rupiah masih tertekan pada akhir pekan. Terlebih, investor kembali mengantisipasi data pekerjaan AS NFP dan indeks kepercayaan komsumen Indonesia besok.
"Namun semakin mendekati 17rb, BI diharapkan untuk kembali intervensi. Range Rp 16.750 - Rp 16.850," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Segini Penyertaan Modal Awal BUMN Danantara Sumberdaya Indonesia
-
MSCI Bekukan Rebalancing, Begini Nasib Saham GOTO
-
Emiten BCIC Sulap Tabungan Nasabah Jadi Aksi Konservasi Mangrove dan Laut
-
Tak Cuma Pembangkit, Transmisi Disebut Kunci Cegah Blackout Sumatra
-
Dua Kali Purbaya Kebobolan Soal APBN, Sapi Kurban Prabowo dan Motor Listrik MBG
-
Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya
-
Pertamina Drilling dan Halliburton Indonesia Sepakat Jalin Kerja Sama Strategis
-
Investor Bitcoin Mulai Tinggalkan FOMO, Fokus ke Riset dan Strategi
-
Insentif Kendaraan Listrik Mundur ke Juli, Kemenperin Klaim Investor Masih Optimistis
-
Penutupan Alfamart Dikaitkan dengan KDMP, Perang Ritel Mulai Terjadi?