- Saham GIAA melonjak 9,76% pada 8 Januari 2026 dipicu pengalihan saham 3,74 miliar lembar dari Danantara AM kepada BP BUMN.
- Transaksi jumbo pengalihan saham tersebut bernilai total Rp1,71 triliun dengan harga pelaksanaan Rp459 per saham.
- Secara fundamental, Garuda Indonesia (GIAA) masih mencatatkan ekuitas negatif USD1,54 miliar hingga kuartal ketiga 2025.
Suara.com - Saham maskapai nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar modal di awal tahun 2026.
Hingga penutupan sesi I perdagangan Kamis (8/1), harga saham GIAA terpantau melonjak tajam sebesar 9,76 persen ke posisi Rp90 per lembar.
Lonjakan ini terjadi tak lama setelah adanya perubahan struktur kepemilikan saham yang melibatkan entitas pengelola aset negara.
Danantara Asset Management (Danantara AM) dilaporkan telah memindahkan sebagian porsi kepemilikannya kepada Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN).
Transaksi Jumbo Rp1,71 Triliun di Balik Layar
Berdasarkan keterbukaan informasi, Danantara AM melepas sebanyak 3,74 miliar lembar saham GIAA pada Rabu (7/1).
Menariknya, harga pelaksanaan dalam pengalihan kepada BP BUMN tersebut dipatok pada angka Rp459 per saham. Melalui skema ini, Danantara AM berhasil mengantongi dana taktis senilai Rp1,71 triliun.
Dampak dari transaksi tersebut, kepemilikan langsung Danantara AM di GIAA menyusut sekitar 0,92 persen menjadi 91,11 persen, dari posisi sebelumnya yang mencapai 92,031 persen.
Di sisi lain, Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN kini resmi mendekap 0,92 persen saham atau setara dengan jumlah saham yang dilepas Danantara.
Baca Juga: Fakta-fakta Ekspansi NINE: Benarkah Akuisisi Tambang Mongolia Senilai Rp1,6 Triliun
Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, antusiasme pasar terhadap GIAA tercermin dari volume transaksi yang mencapai 679,73 juta lembar dengan frekuensi sebanyak 1.600 kali, serta nilai transaksi total sebesar Rp5,97 miliar.
Meski demikian, perjalanan harga saham GIAA sepanjang setahun terakhir penuh dengan dinamika. Membuka tahun 2025 di level Rp54, emiten penerbangan ini sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah di Rp31 pada Maret 2025.
Namun, GIAA sempat menunjukkan taringnya dengan reli panjang yang membawa harga saham mencapai level tertinggi Rp126 pada Oktober 2025. Menutup tahun 2025 dengan koreksi di level Rp98, secara akumulatif saham ini telah meroket 78,18 persen sepanjang tahun lalu.
Memasuki minggu pertama 2026, tren penurunan sebenarnya sempat membayangi hingga menyentuh Rp82 pada Rabu kemarin (turun 16,33 persen dari posisi akhir tahun).
Penguatan hari ini pun menjadi angin segar bagi investor yang berharap pada pemulihan tren harga jangka pendek.
Rapor Keuangan: Ekuitas Masih Negatif di Tengah Penurunan Pendapatan
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Miris! 30 Persen Gaji Masyarakat untuk Bayar Ongkos Transportasi
-
Soal Kenaikan DMO, Bahlil: Kebutuhan Dalam Negeri Harus Dipenuhi Dulu
-
Pengusaha IHT Minta Pemerintah Membina, Bukan Binasakan Industri Tembakau
-
Bahlil: Realisasi Investasi Sektor ESDM Investasi Turun, PNBP Gagal Capai Target
-
Timothy Ronald dan Akademi Crypto Mendadak Viral, Apa Penyebabnya
-
Indonesia Raih Posisi Runner-up di Thailand, BRI Salurkan Bonus Atlet SEA Games 2025
-
Fenomena Demam Saham Asuransi Awal 2026, Kesempatan atau Jebakan Bandar?
-
IATA Awali Operasional Tambang di Musi Banyuasin, Gandeng Unit UNTR
-
Realisasi PNBP Migas Jauh dari Target, Ini Alasan Bahlil
-
APBN Tekor Hampir 3 Persen, Dalih Purbaya: Saya Buat Nol Defisit Bisa, Tapi Ekonomi Morat-marit