Bisnis / keuangan
M Nurhadi
Presiden Real Madrid, Florentino Perez. [BENJAMIN CREMEL / AFP]

Suara.com - Sepakbola saat ini tidak hanya berfungsi sebagai salah satu bidang olahraga lagi melainkan sudah menjadi bisnis hiburan yang dapat mendatangkan pundi-pundi uang.

Sejak gelontoran dana pengusaha jazirah Arab dan China yang belakangan makin gencar mengakusisi klub Eropa, perputaran uang di sepakbola semakin cepat. Para konglomerat Arab semakin gencar menggelontorkan uang untuk membeli pemain.

Bahkan, kekuatan uang yang melimpah berkat dukungan dari negara asal pengusaha. Sebagai contoh, keluarga kerajaan Qatar atas PSG dan Uni Emirat Arab dengan Manchester City, atau yang paling baru, pangeran Salman yang secara tidak langsung mengambil alih Newcastle United.

Hal inilah yang membuat Presiden Real Madrid, Florentino Perez merasa geram hingga mengaku ingin melawan klub-klub yang disokong keuangan negara.

Baca Juga: Pemerintah Qatar Bantah Tuduhan Eksploitasi Pekerja Migran untuk Piala Dunia 2022

Hal ini ditandai dengan kritik pedas yang ia lontarkan terhadap kemunculan klub-klub Eropa dengan dukungan uang raksasa. Ia juga menyindir PSG yang didukung Qatar Sports Investment (QSI).

Meski belakangan diketahui kegeraman Florentino Perez diduga akibat PSG yang menolak tawaran €200 juta Los Blancos untuk Kylian Mbappe.

"Kami mencoba mendatangkan pemain yang terbaik, tetapi harus mampu membeli mereka. Sekarang, bahkan [jika] kami menawarkan €200 juta, mereka tak akan melepas pemain," kata Florentino Perez dikutip dari Mundo Deportivo.

"Ketika kontrak mereka habis, kondisinya lebih baik, tetapi sekarang ada banyak klub yang didanai negara dan mereka ogah menjual pemain pada orang lain. Saya berjuang agar manajemen [finansial klub] menjadi hal utama, bukan saluran uang dari sumber eksternal," ujarnya lagi.

Ia lantas memperkirakan, di masa depan nanti mungkin akan ada puluhan klub Eropa yang didukung dengan negara di dunia.

Baca Juga: Alasan Pelatih Belgia Roberto Martinez Pulangkan Eden Hazard

"Akan tiba saatnya masa dimana 30 klub teratas di Eropa bakal dimiliki oleh negara. Hal ini bukan semangat dari Uni Eropa. Saya hadir di sini itu melawannya dan saya sudah melawannya sejak tiba di sini," pungkasnya.

Komentar