Suara.com - Ketegangan antara Rusia dan Ukraina belakangan ini berdampak pada kenaikan biaya energi dan harga komoditas bagi sejumlah negara.
Disampaikan oleh Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath melalui Reuters, saat ini situasinya jauh berbeda dari tahun 2014 ketika Rusia mencaplok wilayah Krimea di Ukraina, dan harga energi turun cukup tajam di tengah rendahnya permintaan dan pasokan gas serpih yang cukup.
"Kali ini, jika konflik ini terjadi, Anda akan melihat kenaikan harga energi," kata Gopinath kepada Reuters dalam sebuah wawancara, mencatat krisis saat ini berlangsung di musim dingin dan cadangan gas alam jauh lebih rendah di Eropa.
"Harga komoditas lain yang diekspor oleh Rusia juga naik, dan dapat memicu "peningkatan yang lebih besar dan luas" dalam harga komoditas jika konflik meningkat," sambungnya.
Ekonomi Rusia mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen pada tahun 2015 karena jatuhnya harga minyak dan sanksi internasional yang diberlakukan setelah aneksasi Krimea.
"IMF saat ini memperkirakan bahwa ekonomi Rusia akan tumbuh 2,8 persen pada 2022, tetapi perkiraan itu tidak termasuk kekhawatiran tentang konflik," kata Gopinath.
Ia kembali melanjutkan, dalam konferensi pers sebelumnya, eskalasi konflik dan potensi sanksi Barat terhadap Rusia bisa mendorong harga minyak dan gas alam lebih tinggi, mendorong biaya energi lebih tinggi bagi banyak negara di dunia.
"Itu berarti inflasi utama, yang sudah pada tingkat yang sangat tinggi di seluruh dunia, bisa tetap jauh lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama," katanya.
Konflik ini secara taklangsung juga memberi dampak pada pasar saham Rusia dan mata uang Rusia, rubel, katanya, seraya menambahkan bahwa pejabat IMF masih mengharapkan resolusi damai.
IMF pada Selasa (25/1/2022) merevisi perkiraan inflasi 2022 untuk negara maju dan berkembang, dan mengatakan tekanan harga yang meningkat kemungkinan akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, tetapi mengatakan harga akan mereda pada 2023 karena pertumbuhan harga bahan bakar dan makanan moderat.
Potensi ekonomi yang masih belum dapat diperkirakan secara pasti ini mungkin berdampak pada ekonomi Indonesia secara tak langsung. Namun demikian, tiap kebijakan dari IMF dipastikan dapat diantisipasi oleh Indonesia.
Berita Terkait
-
Harga Minyak Goreng Rp 14.000 per Liter Belum Merata, UMKM Menjerit
-
Harga Minyak Goreng di Kulon Progo Masih Tinggi Rp21 Ribu per Liter
-
Krisis Ukraina Makin Memanas, NATO Siagakan Kapal Perang dan Jet Tempur Tambahan
-
Pedagang Pasar Tradisional di Bandung Nilai Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga Hanya Untungkan Perusahaan Besar
-
Pertemuan Jokowi dan PM Lee Hsien Loong Hasilkan Investasi Singapura Senilai 9,2 Miliar US Dolar di Indonesia
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Harga Emas Anjlok! Saatnya Borong Antam, UBS, dan Galeri24 Hari Ini?
-
Wall Street Ditutup Bervariasi, Harga Minyak Dunia Masih Jadi Biang Kerok
-
BKI Mulai Ekspansi Sertifikasi dan Inspeksi ke Pembangkit Listrik
-
Bank Mandiri Tebar Dividen Rp44,47 Triliun, Cek Jadwalnya
-
Kinerja Bank Mandiri: Dividen Rp 44,47 T Siap Dibagikan, Intip Detail Buyback Saham
-
460 Ribu Rekening Penipu Diblokir, Dana Rp169 Miliar Korban Berhasil Dikembalikan
-
Laporan Kinerja ISAT Kuartal I 2026, Buy atau Sell?
-
BBRI Jaga Margin di Tengah Gejolak Suku Bunga, Kinerja Kuartal I Lampaui Ekspektasi Pasar
-
Suku Bunga Deposito BRI Tahun 2026
-
Belanja Suku Cadang Lokal SMGR Tembus Rp809 Miliar di 2025