Suara.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai realisasi pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2021 yang sebesar 3,69 persen sesuai dengan yang ditebak dirinya.
Begitu juga dengan realisasi kuartal IV-2021 yang sebesar 5,02 persen.
"Angka ini cukup dekat dengan proyeksi/forecast Kemenkeu disampaikan awal tahun Januari 2022," tulis Sri Mulyani dalam akun Instagram resmi miliknya @smiindrawati yang dikutip Selasa (8/2/2022).
Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani memprediksi, pertumbuhan Ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2021 hanya akan mencapai 3,7 persen.
Hal tersebut dikatakan Sri Mulyani saat konfrensi pers Realisasi APBN 2021 di Jakarta awal Januari 2022 lalu.
"Pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan tumbuh 3,7 persen. Kalau bicara range di 3,5-4 persen," kata Sri Mulyani.
Dia menuturkan, pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari target APBN 2021 yang dipatok sebesar 5 persen.
Menurutnya, lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu disebabkan karena pada kuartal I 2021 pertumbuhannya masih negatif.
"Nah, ini karena pada kuartal I kita masih tumbuh -0,7 persen," paparnya.
Lebih lanjut mantan, Direktur Bank Dunia ini mengatakan realisasi itu cukup dekat dengan proyeksi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada kuartal IV-2021 adalah 5,1 persen dan keseluruhan tahun 3,7 persen.
Pemulihan ekonomi, sambung Sri Mulyani, menguat pada kuartal IV, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pemerintah dan ekspor.
"Seluruh sektor: manufaktur, perdagangan, konstruksi, transport pergudangan, pertambangan, informasi/komunikasi semua mengalami perbaikan," ujarnya.
Ani memaparkan pada 2022 ini, masih ada tantangan perekonomian tetap dinamis dan harus diwaspadai.
Seperti, pandemi covid-19 terlebih varian omicron yang meningkat, lingkungan global yang semakin menantang karena tapering kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi di negara maju, hingga ketegangan geopolitik yang meningkat menimbulkan tambahan ketidakpastian.
"APBN uang kita akan terus menjadi instrumen penting dalam pemulihan ekonomi yang fleksibel, responsif dan akuntabel. APBN tetap secara bertahap dikonsolidasikan agar tercapai 3 tujuan penting, yakni kesehatan ekonomi, kesehatan rakyat dan kesehatan APBN," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Terkini
-
Pupuk Indonesia Gandeng 1.620 Inovator Demi Perkuat Kemandirian Pangan Nasional
-
Industri Sawit RI Sumbang Output Rp1.119 Triliun dan Serap 16,5 Juta Pekerja
-
Tukar Uang di BCA Minimal Berapa? Ini Tata Cara Jelang Ramadan 2026
-
Vietjet Amankan Kesepakatan US$6,1 Miliar untuk Ekspansi Asia-Pasifik
-
Wings Group Makin Agresif Buka Cabang Baru FamilyMart
-
30 Ton Bantuan Pangan di Kirim ke Aceh Tamiang
-
Siapkan Alat Berat, Kementerian PU Bantu Tangani Jalan Provinsi di Gayo Lues
-
Kementerian PU Uji Coba Pengaliran Air di Daerah Irigasi Jambo Aye
-
Holding Mitra Mikro Perluas Inklusi Keuangan Lewat 430 Ribu Agen BRILink Mekaar
-
IHSG dan Rupiah Rontok Gara-gara Moody's, Apa yang Sebenarnya Terjadi?