Suara.com - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa, rebound dalam perdagangan yang bergejolak karena pasar mempertimbangkan rencana China untuk mendukung ekonominya terhadap kemungkinan penguncian virus korona di ibu kota Beijing.
Mengutip CNBC, Rabu (26/4/2022/ minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak USD2,67, atau 2,6 persen menjadi USD104,99 per barel.
Sementara kontrak West Texas Intermediate, patokan Amerika Serikat, melesat USD3,16, atau 3,2 persen menjadi USD101,70 per barel.
Perdagangan berombak dengan Brent menyentuh level terendah pada sesi tersebut di posisi USD101,08 dan WTI USD97,06 per barel, tertekan kekhawatiran atas permintaan di China, importir minyak mentah terbesar dunia.
Senin, kedua tolok ukur tersebut jatuh sekitar 4 persen.
Bank sentral China mengatakan akan meningkatkan dukungan kebijakan moneter yang prudent bagi perekonomiannya. Stimulus yang dikucurkan akan meningkatkan permintaan minyak.
"Trader minyak menempatkan ketakutan penguncian Beijing di kaca spion dan sebaliknya berfokus pada lebih banyak stimulus yang datang dari China," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
Ibu kota China, Beijing, memperluas pengujian massal Covid-19 ke sebagian besar kota berpenduduk hampir 22 juta orang itu, ketika warganya bersiap untuk penguncian yang mirip dengan pembatasan ketat Shanghai.
Penghentian terkait cuaca dalam produksi di cekungan shale-oil Bakken North Dakota mendukung minyak mentah berjangka, juga harga produk yang sangat kuat, terutama solar, kata Scott Shelton, analis United ICAP.
Baca Juga: Kekhawatiran Meningkat, Harga Minyak Dunia Anjlok 4 Persen
Gazprom Rusia mengatakan kepada PGNiG Polandia bahwa mereka akan menghentikan pasokan gas di sepanjang pipa Yamal mulai Rabu pagi, kata PGNiG dalam sebuah pernyataan.
Gazprom mengatakan Polandia harus melakukan pembayaran di bawah skema yang baru mulai Selasa.
"Rusia menuntut pembayaran dalam rubel dari Polandia yang kemungkinan akan mengakibatkan penghentian pasokan gas dan juga bakal berkontribusi pada harga solar yang lebih kuat," papar Shelton.
Valero Energy Corp, penyulingan Amerika pertama yang melaporkan kinerjanya untuk kuartal tersebut, mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan produk akan tetap sehat.
Uni Eropa terus mempertimbangkan opsi untuk memotong impor minyak Rusia sebagai bagian dari kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap Moskow atas invasinya ke Ukraina. Tidak ada yang secara resmi diusulkan.
Jerman mengatakan pihaknya berharap untuk mengganti semua pengiriman minyak dari Rusia dalam beberapa hari. Trader komoditas Trafigura Group mengatakan akan menghentikan semua pembelian minyak mentah dari BUMN minyak Rusia, Rosneft, pada 15 Mei.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bukan Hanya Siswa, Guru pun Terkena Aturan Baru Penggunaan Ponsel di Sekolah Sulbar
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
Pilihan
-
Cerita Warga Solo Hadapi Pajak Opsen hingga Kaget Uang Tak Cukup, FX Rudy: Mohon Dipertimbangkan!
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Hilal Tidak Terlihat di Makassar, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk
-
Detik-detik Warga Bersih-bersih Rumah Kosong di Brebes, Berujung Temuan Mayat dalam Koper
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
Terkini
-
RMKE Torehkan Pertumbuhan Eksponensial di Awal 2026
-
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.282 Triliun di Akhir 2025, BI Bilang Begini
-
Pendapatan Jaya Ancol Turun 11,11 Persen Jadi Rp1,12 Triliun
-
5 Fakta Stock Split DSSA: Rasio 1:25 hingga Target Saham
-
Emas Dunia Terkoreksi Tajam, Ini Penyebabnya
-
Askrindo dan IFG Sediakan Ribuan Tiket Mudik Gratis dari Pulau Jawa Hingga Sumatra
-
Rupiah Dibuka Anjlok ke Level Rp16.872 Usai Libur Panjang
-
IHSG Menghijau Pagi Ini Usai Libur Panjang, 331 Saham Melonjak
-
Harga Emas Dunia Bergerak Fluktuatif, Nilainya Tembus Rp3 Juta per Gram
-
Harga Bitcoin dan Kurs Dolar AS Mulai Berseberangan, Anomali Tahun Ini Berlanjut?