Suara.com - Harga minyak dunia menguat untuk hari kedua pada perdagangan Rabu, rebound dari kerugian baru-baru ini.
Penguatan ini disebabkan dolar AS yang bergerak dan juga data stok bahan bakar Amerika yang menurun.
Mengutip CNBC, Kamis (29/9/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD3,05, atau 3,5 persen menjadi USD89,32 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meroket USD3,65, atau 4,7 persen menjadi USD82,15 per barel.
Analis mengatakan harga minyak, anjlok lebih dari 22 persen selama kuartal ketiga, mungkin mencapai titik terendah karena permintaan China menunjukkan tanda-tanda rebound dan penjualan cadangan strategis Amerika mendekati akhir.
"Saya pikir kita berada di posisi terbawah, tetapi akan terus sangat fluktuatif, dan terus menjauhkan dana spekulatif dari pasar ini," kata Rebecca Babin, trader di CIBC Private Wealth US.
Angka persediaan Amerika menunjukkan permintaan konsumen rebound, meski produk penyulingan yang dipasok tetap 3 persen lebih rendah selama empat pekan terakhir dibandingkan periode tahun lalu.
Srok minyak mentah AS turun 215.000 barel dalam minggu terakhir, sementara persediaan bensin menyusut 2,4 juta barel dan persediaan produk sulingan tercatat 2,9 juta barel, karena aktivitas penyulingan menurun menyusul langkah penutupan.
Aktivitas penyulingan menurun, tetapi penyulingan masih beroperasi pada level 90,6 persen dari keseluruhan kapasitas di Amerika Serikat, tertinggi untuk sepanjang tahun ini sejak 2014, baik untuk permintaan domestik maupun ekspor.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Rebound dari Posisi Terendahnya
Indeks Dolar (Indeks DXY) mencapai level tertinggi dua dekade terhadap sekeranjang mata uang, Rabu, sebelum bergerak mundur. Dolar yang kuat mengurangi permintaan minyak dengan membuatnya lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Pada sesi petang di New York, Indeks Dolar turun 0,9 persen.
"Ini semua adalah reli yang didorong oleh dolar secara keseluruhan," kata Eli Tesfaye, analis RJO Futures.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
Terkini
-
Emas di Rumah Jampidsus Lebih Berat dari Emas Monas
-
Kuota Produksi Batubara Akan Ditambah untuk Suap Pembangkit Listrik PLN
-
OJK: Konsumen Bisa Tuntut Finfluencer Secara Hukum
-
Pemerintah Pastikan Tak Ada Tambahan Kuota Produksi Nikel
-
Belanja Subsidi & Kompensasi Naik 44% ke Rp 233 T, Purbaya Akui Gegara BBM hingga Pelemahan Rupiah
-
Purbaya Kenang Tragedi Montara 2009, Janjikan Ganti Rugi ke Warga NTT
-
Masa Depan Koperasi di Era Digital Kini di Tangan Gen Z
-
Airlangga Bongkar Proyek Data Center Raksasa, Nvidia hingga Big Tech Masuk RI
-
Tiket Indomaret Fun Run 2026 Bisa Dibeli Lewat BRImo, Ada Diskon Rp 25 Ribu
-
Menko Airlangga Minta Dubes Negara Sahabat Kawal Realisasi Investasi Hasil Lawatan Prabowo