Suara.com - Harga minyak mentah dunia melesat hampir 2 persen lebih, setelah gempa dahysat yang menimpa Turki dan Suriah, kekhawatiran akan kekurangan pasokan menjadi pemicunya menyusul penutupan terminal ekspor utama negara tersebut.
Mengutip CNBC, Selasa (7/2/2023) harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melambung USD1,74, atau 2,15%, menjadi USD82,73 per barel pada Selasa sore.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, melesat USD1,70, atau 2,29%, menjadi USD75,81 per barel.
"Harga minyak mentah melonjak karena ekspektasi bahwa pemulihan China akan bertahan dan juga didorong gangguan pasokan akibat gempa bumi yang menghancurkan Turki," kata Edward Moya, analis OANDA.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan setengah dari pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini berasal dari China, ungkap kepala badan tersebut, Minggu, menambahkan bahwa permintaan bahan bakar jet melesat.
Arab Saudi, eksportir minyak utama dunia, menaikkan harga minyak mentah andalannya bagi pembeli Asia untuk pertama kalinya dalam enam bulan di tengah ekspektasi pemulihan permintaan, terutama dari China.
Operasi di terminal ekspor minyak Ceyhan, Turki, berkapasitas 1 juta barel per hari (bph) dihentikan setelah gempa besar melanda wilayah tersebut. Terminal BTC, yang mengekspor minyak mentah Azeri ke pasar internasional, akan ditutup pada 6-8 Februari.
Daniel Hynes, analis ANZ di Sydney, juga menunjuk penutupan Phase 1 dari ladang minyak Johan Sverdrup berkapasitas 535.000 bph di wilayah Laut Utara Norwegia sebagai pendorong utama harga.
Pasar minyak akan mencermati pidato Chairman Federal Reserve Jerome Powell, Rabu, kata para analis. Kenaikan suku bunga biasanya memperkuat dolar, yang bisa membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli non-Amerika.
Baca Juga: Kesamaan Gempa Turki dan Banten yang Terjadi Pagi Ini
"Rebound harga minyak lebih seperti pergerakan yang hati-hati menjelang pidato Powell besok, ketika Chairman Fed itu dapat memberikan lebih banyak petunjuk tentang jalur kenaikan suku bunga di masa mendatang," kata Tina Teng, analis CMC Markets.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Turun Tajam, Daging Sapi dan Ikan Kembung Masih Menguat
-
Manufaktur dan Pertanian Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
-
Pertamina Jamin Stok BBM Aman Jelang Mudik Lebaran 2026
-
Biaya Hidup Naik Saat Ramadan, Siasat Atur Keuangan Biar Nggak Boncos
-
Narasi Swasembada Pangan di Balik Bayang-Bayang Impor Beras Amerika
-
Ekonom Bank Mandiri Sebut Perpanjangan Dana SAL Rp200 Triliun Positif Buat Himbara
-
Bayang-bayang Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia 'Nangkring' di Level Tertinggi 7 Bulan
-
OJK Restui Rencana Menteri Purbaya Parkir SAL Rp200 Triliun di Himbara, Bunga Kredit Bakal Jinak?
-
Emas Diprediksi Masih Bullish Panjang, Target Harga Di Atas USD 6.000
-
Trading Saham Global Kini Bisa 24 Jam Nonstop