Suara.com - Penjualan emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sepanjang paruh pertama tahun 2023 ini terbilang laris manis, kondisi ini ditambah dengan harga emas global yang cenderung naik.
Mengutip laporan emiten BUMN tambang mineral tersebut yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (1/9/2023) kondisi tersebut membuat perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,8 triliun pada semester I 2023, atau tumbuh 23,8 persen dibanding periode sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp1,525 triliun.
Hasil itu mendongkrak laba per saham dan dilusian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ke level Rp78,64 per lembar, sedangkan di akhir Juni 2022 berada di level Rp63,5 per helai.
Penopangnya tentu penjualan tambang yang meningkat 15,5 persen secara tahunan menjadi Rp21,661 triliun pada akhir Juni 2023.
Secara rinci penjualan emas menanjak 9,01 persen menjadi Rp13,3 triliun. Bahkan penjualan bijih nikel melonjak 109,6 persen menjadi Rp4,886 triliun. Senada, penjualan alumina terkerek 2,2 persen menjadi Rp627,22 miliar.
Lalu, pendapatan jasa pemurnian logam mulia dan jasa lainnya melejit 34,5 persen menjadi Rp113,37 miliar. Tapi penjualan feronikel turun 18,3 persen menjadi Rp2,54 triliun.
Senada, penjualan bijih bauksit anjlok 48,1 persen yang tersisa Rp143,51 miliar. Demikian juga dengan penjualan perak yang melorot 25,7 persen menjadi Rp49,376 miliar.
Walau beban pokok penjualan membengkak 18,1 persen secara tahunan menjadi Rp17,42 triliun pada akhir Juni 2023. Tapi laba kotor tetap terangkat 5,4 persen menjadi Rp4,24 triliun.
Menariknya, beban umum dan administrasi dapat ditekan sedalam 30,3 persen menjadi Rp1,46 triliun. Begitu juga dengan beban penjualan dan pemasaran turun 2,9 persen menjadi Rp453,66 miliar.
Baca Juga: Meriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia, Antam Berikan Motivasi Kepada Generasi Muda
Alhasil, laba usaha terkerek 58,8 persen secara tahunan menjadi Rp2,326 triliun pada akhir Juni 2023.
Namun laba sebelum pajak penghasilan hanya tumbuh 11,2 persen secara menjadi Rp2,462 triliun pada akhir Juni 2023.
Meski demikian Antam mengalami rugi selisih nilai tukar atau kurs sedalam Rp318,8 miliar, sedangkan pada semester I 2022 justru meraih laba kurs senilai Rp261,74 miliar.
Lalu, ANTM juga menderita beban lain-lain Rp140 miliar, sedangkan di semester I 2022 mendapatkan penghasilan lain-lain Rp38,11 miliar.
Sementara itu, jumlah kewajiban bertambah 27,2 persen dibanding akhir tahun 2022 menjadi Rp9,925 triliun pada akhir Juni 2023. Pada sisi lain, total ekuitas berkurang 0,15 persen dibanding akhir tahun 2022 menjadi Rp23,676 triliun pada akhir Juni 2023.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Terpopuler: Waktu yang Ideal untuk Ganti HP, Rekomendasi HP untuk Jangka Panjang
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
-
Resmi Dibuka! Jadwal Penukaran Uang Baru 2026 Periode Kedua di PINTAR BI Go Id
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
Terkini
-
Susul ANTM dan PTBA, PT Timah Juga Kembali Nyandang Nama Persero
-
Danantara: Perusahaan China, Prancis, Hong Kong, Jepang dan Singapura Lolos Seleksi PSEL
-
Krakatau Steel: Jaringan Gas Kunci Ekspansi Industri di Cilegon
-
Pemerintah Kenakan Tarif Impor Baja China Jadi 17,5 Persen
-
Digelar di 9 Kota Besar, BSI Fest Ramadan 2026 Tawarkan Diskon Paket Umrah Hingga Rp4 Juta
-
Hanya Bertahan Sehari, IHSG Balik Memerah Lagi di Level 8.200
-
Tolak Usul IMF, Purbaya Ogah Naikkan Pajak Karyawan
-
Bumi Berseru Fest dari Telkom Jaring 43 Program Terbaik untuk Lingkungan Berkelanjutan
-
Krakatau Steel Bidik Produksi 4,5 Juta Ton Baja di 2026
-
Gubernur BI: Rupiah Undervalue, Tidak Cerminkan Ekonomi Indonesia