- Pemerintah naikkan tarif impor baja China dari 0% menjadi 17,5% demi proteksi.
- Kebijakan merujuk rekomendasi KADI untuk cegah dumping produk asal Wuhan.
- Langkah ini bantu daya saing Krakatau Steel di tengah banjir pasokan global.
Suara.com - Pemerintah resmi mengambil langkah tegas untuk melindungi industri baja nasional dari gempuran produk impor asal China. Salah satu kebijakan terbaru adalah menaikkan tarif impor baja yang sebelumnya sempat menyentuh angka nol persen.
Direktur Komersial PT Krakatau Steel, Hernowo mengungkapkan, sebelumnya terdapat produk baja asal China khususnya dari wilayah Wuhan yang masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenakan tarif alias nol persen. Kondisi ini dinilai sangat menekan industri domestik.
"Dulu ada masuk dari China nol persen. Cuma satu tuh dari Wuhan ke sini nol persen. Ini sama Kemendag sudah terbit, tarifnya dinaikin jadi 17,5 persen," ujar Hernowo saat ditemui di Cilegon, Kamis (19/2/2026).
Menurut Hernowo, kenaikan tarif ini merujuk pada rekomendasi Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). Langkah Kementerian Perdagangan (Kemendag) ini dianggap krusial untuk menahan laju produk baja murah yang berisiko mematikan produsen lokal
Hernowo menjelaskan bahwa banjirnya produk China bukan tanpa alasan. Saat ini, Negeri Tirai Bambu tersebut sedang mengalami masalah kelebihan produksi (oversupply) yang tidak terserap oleh pasar domestik mereka sendiri.
"China lagi masalah. Produksinya banyak, enggak ada yang nyerap. Nah makanya barangnya banjir. Bukan hanya baja, ada tekstil, ada semuanya," tuturnya.
Kondisi ini memicu berbagai negara untuk memperketat kebijakan perdagangan mereka. Proteksi pasar menjadi harga mati agar industri manufaktur di dalam negeri tidak gulung tikar akibat perang harga.
"Makanya semua negara hari ini memproteksi supaya barang China enggak boleh masuk. Indonesia juga sudah mulai ambil langkah," kata Hernowo menambahkan.
Kenaikan tarif hingga 17,5 persen ini diyakini akan memberikan ruang napas bagi industri baja nasional, termasuk PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Dengan harga impor yang lebih terkendali, produk dalam negeri diharapkan kembali kompetitif di pasar sendiri.
Baca Juga: Krakatau Steel Bidik Produksi 4,5 Juta Ton Baja di 2026
"Dengan tarif naik, otomatis itu pasti bantu industri (dalam negeri), termasuk Krakatau Steel," pungkasnya optimis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Terpopuler: Waktu yang Ideal untuk Ganti HP, Rekomendasi HP untuk Jangka Panjang
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
-
Resmi Dibuka! Jadwal Penukaran Uang Baru 2026 Periode Kedua di PINTAR BI Go Id
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
-
Warga Boyolali Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, Gara-gara Ganti Rugi Waduk Kedungombo Belum Dibayar
Terkini
-
Digelar di 9 Kota Besar, BSI Fest Ramadan 2026 Tawarkan Diskon Paket Umrah Hingga Rp4 Juta
-
Hanya Bertahan Sehari, IHSG Balik Memerah Lagi di Level 8.200
-
Tolak Usul IMF, Purbaya Ogah Naikkan Pajak Karyawan
-
Bumi Berseru Fest dari Telkom Jaring 43 Program Terbaik untuk Lingkungan Berkelanjutan
-
Krakatau Steel Bidik Produksi 4,5 Juta Ton Baja di 2026
-
Gubernur BI: Rupiah Undervalue, Tidak Cerminkan Ekonomi Indonesia
-
Industri Kripto Makin Matang, Upbit Perkuat Keamanan dan Kolaborasi dengan Regulator
-
Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar, Gubernur BI Ungkap Strategi Ekonomi
-
Kemenhub Ungkap Kondisi Pesawat Kargo Pelita Air, Layak Terbang?
-
Kemenhub: Pilot Pesawat Kargo BBM Pelita Air Meninggal Dunia