- Krakatau Steel bidik 4,5 juta ton baja pada 2026.
- Produksi naik 1 juta ton berkat efektivitas penuh pabrik HSM 1.
- KRAS siap penuhi kebutuhan baja PT PAL, konstruksi, dan infrastruktur.
Suara.com - Emiten baja pelat merah, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mematok target ambisius pada tahun 2026. Perusahaan menargetkan total produksi baja mencapai 4,5 juta ton seiring dengan kembali beroperasinya fasilitas pabrik secara penuh.
Direktur Komersial Krakatau Steel, Hernowo mengungkapkan bahwa lonjakan kapasitas produksi ini dipicu oleh kembali normalnya fasilitas Hot Strip Mill (HSM) 1. Fasilitas vital ini sebelumnya sempat terhenti, namun kini siap menyokong output perusahaan secara maksimal.
"Produksi Krakatau Steel setahun tahun ini sekitar 4,5 juta ton baja. Untuk kapal, untuk pipa, untuk konstruksi, untuk semua yang baja itu kira-kira 4,5 juta ton," ujar Hernowo di Cilegon, Banten, Kamis (19/2/2026).
Optimalisasi HSM 1 Hernowo menjelaskan, proyeksi tahun ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Kuncinya terletak pada efektivitas pabrik HSM 1 yang telah pulih pasca-insiden kebakaran beberapa waktu lalu.
"Naiknya signifikan. HSM 1 yang kebakaran itu sudah mulai hidup, tahun ini full efektif. Itu kira-kira nambah satu juta ton dibanding tahun lalu," jelasnya lebih lanjut.
Sokong Proyek Strategis Nasional Dengan kapasitas yang mumpuni, Krakatau Steel optimistis mampu memenuhi kebutuhan baja di berbagai sektor strategis, mulai dari infrastruktur, proyek pipa, hingga industri perkapalan nasional.
Saat ini, KRAS aktif terlibat dalam berbagai proyek pemerintah. Salah satu fokus utamanya adalah menjadi pemasok utama bahan baku untuk industri maritim melalui PT PAL.
"Negara kan untuk kapal dimandatkan ke PT PAL. Nah PT PAL bahan bakunya dari Krakatau Steel. Yang badan baja, plat-plat itu dari Krakatau Steel," kata Hernowo.
Ia menegaskan bahwa peningkatan produksi ini akan memperkuat posisi perusahaan sebagai tulang punggung industri baja domestik, terutama dalam mendukung kemandirian material untuk proyek energi dan konstruksi nasional.
Baca Juga: Daya Saing Pariwisata RI Lemah? SDM Harus Adaptif dan Melek Digital!
"Kita siap. Produksi kita lebih dari cukup untuk mensupport proyek-proyek baja di dalam negeri," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 8 Sepatu Adidas untuk Jalan Kaki yang Sedang Diskon di Toko Resmi, Harga Jadi Rp500 Ribuan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Mengapa Pasar Khawatir pada Danantara Sumber Daya Indonesia
-
Petrokimia Gresik Pastikan Pasokan Gas untuk Produksi Pupuk Aman Hingga 2035
-
Industri Vape Legal Terancam: 150 Ribu Pekerja Waswas Kehilangan Mata Pencaharian
-
Beda BRI Simpedes dan Simpedes UMi: Biaya Admin, Saldo Minimal, dan Syarat
-
IHSG Tiba-tiba Bangkit ke Level 6.100, Apa Penyebabnya?
-
SKK Migas Jemput Bola, Pelaku Usaha Serbu Layanan CIVD dan IOG e-Commerce di IPA Convex 2026
-
Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Titik Terendah dalam 6 Tahun
-
PGN Garap Studi Ekosistem CCS dan Transportasi CO2, Dukung Pengembangan Amonia Rendah Karbon
-
TelkomGroup Bersinar di LinkedIn Talent Awards 2025, Raih Dua Penghargaan
-
Kolaborasi Galeri 24 dan Lotus Gold Dorong Emas Lokal Berkualitas di Seluruh Indonesia