Suara.com - Ceramah eks pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq kembali viral. Kali ini dia mengkritik keras biaya kuliah kedokteran yang mahal.
Rizieq kemudian menyinggung kebijakan Kementerian Kesehatan yang diwacanakan bakal membuka kesempatan naturalisasi untuk memasukkan dokter – dokter asing dengan sistem naturalisasi alih – alih membuat skema pendidikan kedokteran yang terjangkau untuk masyarakat.
“Kementerian Kesehatan mengatakan sekarang kita butuh dokter – dokter naturalisasi. Alasannya karena Indonesia kekurangan dokter. Orang Indonesia tidak kuliah di Fakultas Kedokteran, kenapa? Karena Fakultas Kedokteran mahal, ratusan juta,” kata Rizieq.
Dia melanjutkan, bahwa anak – anak pintar yang tidak punya uang ratusan juta tidak perlu bermimpi bisa berkuliah di Fakultas Kedokteran. Pasalnya pintar saja tidak cukup, namun juga perlu didukung dengan ketersediaan biaya.
Rizieq kemudian menambahkan jika orang Indonesia lebih memilih makan gratis ketimbang pendidikan gratis. Kalimat ini merujuk pada para pendukung presiden terpilih Prabowo Subianto yang menawarkan program makan siang gratis saat masa kampanye.
Seharusnya, masyarakat bisa memilih calon presiden dengan program – program yang lebih esensial seperti pendidikan gratis. Dengan Fakultas Kedokteran dibuka gratis misalnya, akan banyak anak – anak Indonesia yang bisa menjadi dokter.
Rizieq kemudian mempertanyakan 20 persen APBN yang dialokasikan ke sektor pendidikan. Harusnya dengan pengelolaan dana pendidikan tersebut, seharusnya masyarakat Indonesia bisa menikmati pendidikan gratis dari SD sampai kuliah.
Sayangnya, belum diketahui secara pasti kapan video itu diambil dan dimana lokasi terkait. Kebenaran dari video tersebut juga masih dipertanyakan.
Berbicara soal biaya pendidikan yang mahal, Fakultas Kedokteran memang menjadi fakultas yang berbiaya tinggi. Di Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, jenjang profesi dokter umum akan dikenakan uang kuliah tunggal (UKT) minimal Rp500.000 bagi golongan I, kemudian berturut – turut Rp1 juta, Rp7,250 juta, Rp10,875 juta, Rp14,5 juta, dan yang paling tinggi di golongan VI Rp22,5 juta per semester. Besaran UKT ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua/ wali mahasiswa. Uang tersebut tidak termasuk dalam UKT masa pre-klinik atau kuliah teori sepanjang tujuh hingga delapan semester.
Baca Juga: Bebas Murni Hari Ini, Kilas Balik Perjalanan Kasus Habib Rizieq Dipenjara 4 Tahun
Di tengah mahalnya biaya pendidikan hanya untuk menjadi dokter umum, Presiden Joko Widodo menyinggung masih kurangnya jumlah dokter spesialis di Indonesia. "Memang problemnya kita masih punya problem dalam negeri. Dokter spesialisnya masih kurang atau dokter sub spesialis masih kurang," kata Jokowi.
Jokowi mengaku sudah meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mengurus permasalahan tersebut. Dalam kesempatan yang sama, ia juga meminta Mendikbud Ristek Nadiem Makarim untuk memperluas pendidikan dokter spesialis.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Anies Baswedan Diminta DPR Ikut Rapat Bahas Biaya Kuliah Mahal
-
Biaya Kuliah Kedokteran di Indonesia Lebih dari Rp1 M, DPR: Masya Allah, Seharga Alphard!
-
Resmi Bebas, Begini Kilas Balik Perjalanan Kasus Habib Rizieq Dipenjara 4 Tahun
-
Habib Rizieq Bersumpah Memburu Pelaku KM 50 di Dunia dan Akhirat
-
Bebas Murni Hari Ini, Kilas Balik Perjalanan Kasus Habib Rizieq Dipenjara 4 Tahun
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Siapkan Alat Berat, Kementerian PU Bantu Tangani Jalan Provinsi di Gayo Lues
-
Kementerian PU Uji Coba Pengaliran Air di Daerah Irigasi Jambo Aye
-
Holding Mitra Mikro Perluas Inklusi Keuangan Lewat 430 Ribu Agen BRILink Mekaar
-
IHSG dan Rupiah Rontok Gara-gara Moody's, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Purbaya Rotasi Pegawai Pajak usai OTT KPK, Kali Ketiga dalam Sebulan
-
Mendag Ungkap Harga CPO Hingga Batu Bara Anjlok di 2025
-
Meski Transaksi Digital Masif, BCA Tetap Gas Tambah Kantor Cabang
-
Belanja di Korsel Masih Bisa Bayar Pakai QRIS Hingga April 2026
-
Transaksi Digital Melesat, BCA Perketat Sistem Anti-Penipuan
-
BRI Perkuat CSR Lewat Aksi Bersih-Bersih Pantai Dukung Gerakan Indonesia ASRI