Suara.com - Kabar duka menyelimuti ratusan karyawan PT. Dupantex, sebuah pabrik tekstil di kawasan Pantura, Pekalongan, Jawa Tengah. Pasalnya, pabrik tersebut terpaksa menghentikan aktivitas produksinya per 6 Juni 2024, berakibat pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 700-an karyawan.
Penutupan pabrik dan PHK ini membawa dampak yang memprihatinkan bagi para karyawan. Tak hanya kehilangan pekerjaan, mereka juga belum menerima hak-haknya, termasuk gaji yang tertunggak dan pesangon. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) PT Dupantex, Rafi'i.
"Sampai saat ini, 886 karyawan PT Dupantex belum menerima hak-hak mereka, termasuk gaji yang tertunda, tunjangan hari raya (THR), dan pesangon," jelas Rafi'i dikutip Senin (1/7/2024).
Penutupan Dupantex menambah daftar panjang pabrik tekstil di Indonesia yang gulung tikar dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memperparah angka pengangguran di wilayah tersebut.
Beberapa faktor yang menyebabkan penutupan Dupantex antara lain:
Penurunan permintaan global: Industri tekstil mengalami penurunan permintaan secara global, terutama dari negara-negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Meningkatnya biaya produksi: Biaya produksi tekstil meningkat signifikan, terutama karena kenaikan harga bahan baku dan energi.
Persaingan ketat: Persaingan di industri tekstil semakin ketat, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi yang lebih murah seperti China dan Vietnam.
Penutupan Dupantex menjadi pengingat bahwa industri tekstil di Indonesia sedang dalam masa sulit. Diperlukan langkah-langkah strategis dari pemerintah dan pelaku industri untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan industri ini.
Penutupan Dupantex adalah tragedi bagi para karyawan dan keluarganya. Namun, ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi dan membenahi industri tekstil di Indonesia. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan industri ini dapat kembali bangkit dan menjadi penyumbang devisa negara yang signifikan.
Baca Juga: Matahari Department Store Tutup 2 Gerai di Tangerang, Ada Apa?
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru