Suara.com - Boeing, salah satu produsen pesawat terbesar di dunia, dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) setelah mengaku bersalah atas kecelakaan tragis yang melibatkan dua pesawat jenis 737 Max.
Kecelakaan tersebut terjadi pada tahun 2018 dan 2019, masing-masing melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines, yang menewaskan total 346 orang.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, pemerintah AS dan Boeing saat ini sedang berdiskusi tentang dampak dari pengakuan bersalah ini terhadap kontrak-kontrak pemerintah yang dimiliki Boeing.
Kondisi ini berpotensi mengganggu kontrak Boeing dengan pemerintah AS. Namun, rincian akhir dari kesepakatan ini diharapkan akan diajukan pada 19 Juli.
Juru bicara Pentagon, Mayor Jenderal Angkatan Udara Patrick Ryder, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan penilaian untuk menentukan dampak dari pengakuan bersalah Boeing terhadap kontrak-kontrak yang ada.
“DOD akan menilai rencana remediasi perusahaan dan kesepakatan dengan Departemen Kehakiman untuk menentukan langkah apa yang diperlukan dan tepat untuk melindungi pemerintah federal,” ujar Ryder, seperti yang dikutip dari Reuters pada Selasa (9/8/2024).
Dalam laporan tahunannya, Boeing mengungkapkan bahwa kontrak dengan pemerintah AS mewakili 37 persen dari pendapatan mereka tahun lalu, termasuk penjualan militer ke negara asing. Laporan pemerintah menunjukkan bahwa Boeing memiliki kontrak dengan Pentagon senilai USD 14,8 miliar pada tahun 2022.
Ben Tsocanos, direktur maskapai penerbangan S&P Global Ratings, memprediksi bahwa Boeing akan tetap menjadi pemasok utama produk pertahanan dan luar angkasa meskipun ada pengakuan bersalah ini.
"Biaya finansial yang terkait dengan pengakuan tersebut tampaknya dapat dikendalikan dibandingkan dengan skala perusahaan dan kewajiban keseluruhannya," kata Ben.
Baca Juga: Ngeri! Detik-detik Lamborghini Terguling hingga Terbakar di Tol: Sopir Tewas Terpanggang
Situasi antara Boeing dan pemerintah AS juga menarik perhatian negara lain, mengingat peran penting Boeing di pasar global. Pemerintah Kanada, misalnya, menyatakan bahwa mereka masih menunggu keputusan mengenai proses hukum ini dan akan menilai dampaknya setelah dikonfirmasi. Mereka juga menyebutkan bahwa rencana akuisisi Poseidon P-8A tetap berjalan.
Secara teori, Boeing menghadapi kemungkinan pembatasan ekspor ke sejumlah pasar internasional di masa depan. Namun, nasib perusahaan ini sangat bergantung pada kebijakan yang diambil oleh lembaga-lembaga lokal dan realitas pasar pertahanan.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam industri penerbangan, serta dampak besar yang dapat ditimbulkan oleh kelalaian perusahaan terhadap keselamatan publik. Boeing kini harus bekerja keras untuk memulihkan reputasinya dan memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan yang ketat di masa depan.
Berita Terkait
-
Setelah Bertahun-tahun, Boeing Akhirnya Akui Kesalahan dalam Tragedi Jatuhnya Pesawat Lion Air
-
Lawan Arah Sembari Ngebut, Pengendara Mobil Tabrak 2 Pemotor di Kebon Jeruk
-
Kronologi Kecelakaan Minibus Rombongan Nikah vs Truk Kayu di Tol Kebomas Gresik
-
Detik-detik Truk Gagal Nanjak di Sitinjau Lauik, Seret Mobil hingga Ringsek
-
Ngeri! Detik-detik Lamborghini Terguling hingga Terbakar di Tol: Sopir Tewas Terpanggang
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Penjelasan Dugaan Manipulasi Eskpor CPO Grup Salim, Mengapa Maybank Ikut Diperiksa?
-
ILC Adopsi Standar Internasional, Menaker Dorong Keseimbangan Pelindungan dan Inovasi
-
Bank Dunia Singgung 20 Persen Orang Kaya RI, Sebut Tak Tahu Diri
-
Investor Wajib Tahu, Indikator Utama Bisnis FnB Layak Difranchisekan
-
Penjualan Properti Anjlok, Pengembang Andalkan Kawasan Hunian-Komersial Terintegrasi
-
Bank Jakarta Permudah Layanan Warga Bayar Pajak Kendaraan
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Sukses Digelar, 20.500 Pelari Ramaikan Hari Pertama
-
Program JKN Bantu Dede Jalani Operasi Kista Ganglion
-
CBDK Cetak Laba Melonjak 317 Persen
-
Mengapa Pertalite Mau Dihapus?