Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa boikot terhadap produk-produk Israel dan afiliasinya tidak akan mengarah pada ancaman pemutusan hubungan kerja secara massal di dalam negeri. Sebaliknya, gerakan boikot ini berhasil memicu perubahan preferensi masyarakat terhadap produk lokal, yang berdampak positif pada perekonomian nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal MUI bidang hukum, Dr. KH Ikhsan Abdullah, dalam diskusi terbuka bertema “Bulan Palestina & Sosialisasi Fatwa Boikot MUI” di Cirebon, Jawa Barat, pada hari Sabtu (30/11).
"Isu PHK massal sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang selama ini mendapat keuntungan besar dari produk multinasional asing pro-Israel di Indonesia. Namun, boikot selama lebih dari setahun ini telah merugikan mereka. Itu wajar, karena mereka yang memulai," ungkap Ikhsan.
Di depan para santri, pejabat, tokoh masyarakat, mahasiswa, aktivis perempuan, dan penggiat Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Barat, Ikhsan menjelaskan bahwa gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel justru memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
"Alhamdulillah, kini banyak produk baru bermunculan, terutama di bisnis air mineral. Produk lokal, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh orang atau perusahaan Indonesia, tidak kalah kualitasnya dibandingkan produk asing," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa produk ayam goreng yang disukai anak-anak kini bisa digantikan dengan banyak produk lokal, membuktikan bahwa pola konsumsi masyarakat bisa berubah. "Dulunya mereka disuguhi waralaba asing, sekarang masyarakat mulai sadar bahwa produk nasional juga berkualitas baik," tambahnya.
Dalam diskusi yang sama, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang pemberdayaan ekonomi, Dr. KH Eman Suryaman, mengatakan bahwa boikot telah berhasil meningkatkan minat konsumen terhadap produk lokal.
"Dampak boikot terhadap produk pro-Israel sangat nyata. Penjualan sejumlah perusahaan multinasional mengalami penurunan signifikan. Jadi, kita semua harus berani melanjutkan gerakan boikot terhadap Israel," katanya.
Eman menambahkan bahwa gerakan boikot telah memberikan banyak dampak positif bagi perusahaan dalam negeri setelah konsumen mulai menjauh dari produk-produk yang dianggap mendukung agresi Israel terhadap Gaza dan Lebanon selama setahun terakhir.
Baca Juga: Israel Akui Serang 250 Target Militer di Suriah, Yaman Kecam Agresi
"Produk Indonesia ternyata mampu menggantikan banyak barang yang diboikot, mulai dari air minum hingga makanan cepat saji," lanjutnya.
Sehubungan dengan itu, Eman menyatakan bahwa Fatwa MUI mengenai boikot produk Israel berperan penting dalam memajukan perekonomian nasional, yang terlihat dari semakin terbukanya peluang usaha bagi para pelaku bisnis di dalam negeri. Oleh karena itu, alih-alih memicu PHK massal seperti yang diklaim beberapa pihak, kegiatan bisnis dan ekonomi di dalam negeri justru berangsur bangkit dan berkembang pesat.
Pada November 2023, MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang "Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina." Dalam fatwa tersebut, MUI merekomendasikan umat Islam untuk "semaksimal mungkin menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta yang mendukung penjajahan dan zionisme."
Fatwa tersebut diperkuat dengan Fatwa MUI No. 14/Ijtima’ Ulama/VIII/2024 tentang Prioritas Penggunaan Produk Dalam Negeri, yang mendorong warga Muslim Indonesia untuk berkontribusi dalam membangkitkan ekonomi nasional dengan mengkonsumsi produk lokal serta menghindari produk-produk yang terafiliasi atau diimpor langsung dari Israel.
Berita Terkait
-
Skandal Spionase Mengejutkan: Puluhan Yahudi Israel Diduga Mata-Mata Iran!
-
Gaza Luncurkan 4 Roket ke Israel, Serangan Balasan Genosida?
-
Skandal Korupsi Netanyahu: Sidang Perdana Menteri Israel Digelar di Bunker Geng Kriminal
-
Suriah Kecam Serangan Israel, Tuntut Tindakan Tegas ke PBB!
-
Israel Akui Serang 250 Target Militer di Suriah, Yaman Kecam Agresi
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Beri Kode Jempol Oke! Purbaya dan Nanik Mulai Timbang Pangkas Anggaran MBG?
-
Purbaya Ogah Disalahkan soal Kebijakan Potong Anggaran Era Sri Mulyani: Saya Pewaris Aja
-
Harga Cabai Hari Ini Turun Drastis, Bawang Merah Ikut Merosot, Cek Daftar Lengkap Harga Pangan
-
Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
-
LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar
-
Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan
-
Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Tembus Rp17.995, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed
-
DSI Diminta Jadi Operator Bisnis, Bukan Regulator Baru
-
Sinergi Mengemaskan Indonesia, Pegadaian - Pupuk Kaltim Kolaborasi Demi Pertumbuhan Berkelanjutan
-
IHSG Menghijau Lagi Dibuka ke Level 6.000, TPIA dan ASII Mulai Dibeli Asing