Suara.com - PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) terus mengembangkan kinerja bisnis yang ditopang di wilayah Kalimantan yang terus bergerak positif, terlebih lagi adanya beberapa proyek strategis di pulau Kalimantan.
Perkembangan industri migas, tambang, dan industri manufaktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan gas industri.
Pada tahun 2024, SBMA berhasil mencatatkan pertumbuhan organik yang signifikan dimana pendapatan dan laba per kuartal selalu naik. Hal ini didorong oleh nilai kontrak dari berbagai pelanggan besar seperti PGN, Pertamina, BUMI, DEWA yang membutuhkan bahan gas industri untuk kebutuhan operasional tambang dan blok minyak yang dimiliki olehnya.
Namun, performa saham SBMA di pasar modal tampaknya berbanding terbalik dengan performa kinerja operasional dan keuangannya. Sebagian dari pada pelaku pasar mungkin bisa melihat hal ini sebagai momentum untuk akumulasi buy saham SBMA di harga terendahnya pada level Rp120-122 per lembar saham. Saham SBMA saat ini ada di level terendahnya sejak 5 tahun terakhir.
Direktur Utama SBMA, Rini Dwiyanti mengatakan, meskipun harga saham SBMA saat ini tidak mencerminkan peningkatan laba yang telah tercatat, penting untuk dipahami bahwa harga saham seringkali dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal yang tidak selalu terkait langsung dengan kinerja perusahaan.
Secara kinerja operasional dan keuangan, SBMA terus menunjukkan peningkatan laba yang konsisten dan memiliki strategi pertumbuhan jangka panjang yang sangat solid, terutama dengan fokus pada sektor-sektor strategis seperti gas medis, special gas, dan metalurgi.
"Keunggulan produk kami, yang terbukti memiliki kualitas tinggi dan kemurnian yang terjaga, serta kepercayaan yang semakin meningkat dari industri, menjadi dasar yang kuat untuk masa depan yang cerah," ujarnya seperti dikutip, Senin (13/1/2025).
Selain itu, sektor gas medis, yang telah terbukti sangat penting selama pandemi, memberikan peluang besar untuk ekspansi lebih lanjut. Perseroan juga memiliki rencana diversifikasi produk yang matang dan investasi pada kapasitas produksi yang akan terus memperkuat posisi perusahaan di pasar.
Meskipun mungkin ada tantangan jangka pendek, Rini yakin bahwa langkah-langkah strategis ini akan memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan membawa keuntungan jangka panjang.
Baca Juga: Mayora Suntik Mati Anak Usaha di Belanda, Tinggalkan Utang Rp35 Miliar
"Dengan pengalaman, keahlian, dan komitmen untuk terus berinovasi, SBMA berada pada posisi yang sangat baik untuk menciptakan nilai lebih besar bagi para pemegang saham di masa depan. Kami mengajak investor untuk tetap mendukung kami dalam perjalanan ini, karena kami percaya bahwa potensi pertumbuhan yang signifikan akan terlihat lebih jelas seiring berjalannya waktu," imbuh Rini.
Berdasarkan diskusi internal dan proyeksi untuk tahun 2025, SBMA sangat optimis terhadap pertumbuhan Perseroan. Adapun target penjualan dan jasa/service SBMA yakin dengan proyeksi pertumbuhan perusahaan pada 2025, didukung oleh peningkatan kapasitas utilitas plant yang solid.
Langkah strategis yang telah tersusun, berdasarkan parameter yang telah kami tetapkan sebelumnya, siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Produk unggulan kami, seperti gas untuk medis, produk special gas, serta layanan jasa seperti leak test, hydrotest, vacuum test siap mendukung pertumbuhan perusahaan.
"Kami melihat potensi besar dalam sektor jasa ini untuk memelihara dan meningkatkan layanan ke Customer yang ada dengan Keahlian tim teknis yang telah dipercaya. Lebih lanjut SBMA juga berkomitmen untuk mendiversifikasi produk, fokus pada pengembangan produk spesifik seperti nitrogen UHP dengan kemurnian di bawah 1 ppm, untuk memasuki pasar yang lebih luas, terutama di sektor yang membutuhkan gas berkualitas tinggi. Kami juga terus mengeksplorasi inovasi dalam distribusi gas, termasuk melalui pipa, yang semakin diminati pelanggan," beber Rini.
Oksigen dan Acetylene akan tetap menjadi fokus utama kami, karena pentingnya produk ini di industri, termasuk petrokimia. Kepercayaan dari perusahaan besar seperti KPC memperkuat keyakinan kami bahwa permintaan untuk kedua produk ini akan terus meningkat, mendukung pertumbuhan perusahaan.
"Kepercayaan dari Industri juga menjadi katalis setelah Kami membangun reputasi kuat di industri, khususnya dalam produk special gas dan layanan terkait. Kepercayaan industri petrokimia memperkuat komitmen kami untuk terus memperluas jangkauan produk dan layanan guna memenuhi permintaan pasar yang berkembang. Kami percaya bahwa 2025 akan menjadi tahun yang penuh peluang dan pertumbuhan bagi perusahaan. Kami siap untuk menghadapi tantangan dan meraih sukses lebih besar," tutup Rini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Cara Gabung Shopee Affiliate, Tips untuk Ibu Rumah Tangga Dapat Cuan Tambahan
-
BCA Syariah Gandeng BEI dan Henan Sekuritas Edukasi Investasi Syariah Mahasiswa PNJ
-
Lagi Butuh Dana Darurat? Gini Cara Pinjam Uang di Shopee Pakai SPinjam
-
Dokumen Rencana Kunker Bareng Keluarga ke New York Jadi Sorotan, Menteri PU: Batal, batal!
-
BRI dan Danantara Percepat Transformasi untuk Tingkatkan Efisiensi Pendanaan
-
Purbaya Masih Kaji Permintaan Said Iqbal soal Hapus Pajak JHT
-
Inovasi Water-Based Dipamerkan untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
-
Apresiasi Atas Pelayanan Sepenuh Hati, Karyawan PNM Asal Papua Diberangkatkan ke Negeri Sakura
-
PFII Diramalkan Akan Bawa Rp500 Triliun ke Indonesia
-
Kemasan Rokok Polos: Siapa Sebenarnya yang Menanggung Biaya Regulasi?