- Wall Street ditutup menguat tajam pada 31 Maret 2026 karena optimisme pasar terhadap meredanya konflik di Iran.
- Lonjakan tiga indeks utama dipicu pernyataan Donald Trump mengenai rencana penarikan pasukan militer AS dari Iran.
- Presiden Iran menunjukkan keterbukaan mengakhiri perang, meski harga minyak mentah global tetap tinggi akibat ketidakpastian pasar.
Suara.com - Wall Street ditutup menguat tajam pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026. Penguatanan ini didorong optimisme pelaku pasar terhadap potensi meredanya konflik Iran.
Menukil data CNBC, Tiga indeks utama kompak melonjak signifikan. Indeks Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 1.100 poin atau sekitar 2,5 persen. Sementara S&P 500 menguat 2,9 persen dan Nasdaq Composite melesat 3,8 persen, menjadi kinerja harian terbaik sejak Mei.
Penguatan pasar dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa pasukan militer AS diperkirakan akan meninggalkan Iran dalam dua atau tiga minggu. Pernyataan ini memperkuat harapan bahwa konflik yang berlangsung dapat segera berakhir.
Selain itu, laporan yang menyebut Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, terbuka untuk mengakhiri perang dengan jaminan keamanan turut menambah optimisme pasar.
Sebelumnya, ia juga menyatakan bahwa penyelesaian konflik memerlukan pengakuan hak Iran, kompensasi, serta jaminan internasional atas potensi agresi di masa depan.
Ketegangan geopolitik yang mulai mereda juga tercermin dari laporan media yang menyebutkan bahwa Trump bersedia mengakhiri perang meski Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka. Bahkan, ia menilai konflik kemungkinan segera berakhir dengan keterlibatan negara lain dalam menangani jalur strategis tersebut.
Meski demikian, tidak semua pelaku pasar yakin reli ini akan berlanjut. CEO Metropolitan Capital Advisors, Karen Finerman, menilai harga minyak yang masih tinggi mencerminkan ketidakpastian yang belum sepenuhnya hilang.
"Saya cenderung berpikir bahwa harga minyak mencerminkan situasi sebenarnya. Saya rasa banyak hal yang terjadi di sini—pasti terjadi penjualan berlebihan, tetapi saya rasa banyak dari ini hanyalah upaya pencitraan. Kita berada di akhir kuartal yang sangat sulit, jadi itu akan sedikit membantu, tetapi saya tidak yakin itu akan berdampak berkelanjutan," katanya.
Sebagai catatan, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga ditutup naik 4,94 persen ke level 118,35 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juni 2022.
Baca Juga: AS Mau Angkat Kaki dari Iran, Harga Minyak Dunia Meluncur 2,5%
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50
-
J Trust Bank (BCIC) Rombak Jajaran Direksi
-
Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan
-
Target Swasembada Garam 2027 Dinilai Sulit Tercapai Tanpa Reformasi Impor
-
BUMN Logistik Baru Mulai Terbentuk, Merger dari 7 Perusahan
-
Vonis Nadiem Makarim Jadi Sorotan Media Internasional: Investor Asing Semakin Tak Percaya
-
Tujuh BUMN Logistik Resmi Melebur di bawah PT Multi Terminal Indonesia
-
Dilema B50 vs Ekspor CPO, Kebijakan Ini Bisa Jadi Pedang Bermata Dua?
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Brantas Abipraya Percepat Penyelesaian Sekolah Rakyat Kabupaten Bogor, Dukung Pemerataan Pendidikan