Suara.com - Pelaku usaha kapal penyeberangan mengeluhkan kondisi angkutan lebaran di Pelabuhan Utama Merak, Banten saat ini. Hal ini setelah pemindahan truk dari Merak ke Pelabuhan Ciwandan dilakukan dengan jadwal yang tidak sesuai dengan. Surat Keputusan Bersama (SKB).
Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo menyatakan para pengusaha kapal penyeberangan sedang prihatin dengan kondisi dan situasi Pelabuhan Utama Penyeberangan Merak, Banten saat ini. Sebab, pada musim angkutan Lebaran 1446 Hijriah yang ditunggu-tunggu bakal ramai, justru memprihatinkan.
"Justru saat angleb (angkutan lebaran) yang ditunggu, kondisi lapangan pada siang hari masih kosong dan hanya memuat rata rata 30 persen kendaraan kecil," ujar Khoiri di Jakarta yang dikutip, Rabu (26/3/2025).
Kondisi itu, bilang dia, kontras dengan kondisi pada pelabuhan BBJ dan pelabuhan Ciwandan yang penuh antri panjang 24 jam. "Kami sudah melayangkan Surat ke Menhub Dudy Purwaghandi dan WA ke semua pejabat pembuat kebijakan kemarin, namun belum ada respon positif agar pengaturan pembagian arus kendaraan dibuat lebih fleksible," jelas Khoiri.
Dia menyebut, surat yang disampaikan tersebut berupa laporan dan masukan terkait pengaturan arus kendaraan di Pelabuhan Ciwandan dan Merak, khususnya dalam pelaksanaan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur pengalihan kendaraan truk ke Pelabuhan Ciwandan.
Adapun hal-hal yang disampaikan Gapasdap adalah sebagai berikut. Pertama, perpindahan truk ke Pelabuhan Ciwandan sebelum waktunya dimana pada tanggal 24 Maret 2025, truk-truk sudah mulai digeser ke Pelabuhan Ciwandan. Padahal menurut SKB, pelaksanaan pengalihan baru dimulai pada tanggal 26 Maret 2025.
Jika pelaksanaan SKB ini bersifat fleksibel, tentu Gapasdap memaklumi. Namun, akibat perpindahan tersebut, kemarin sempat terjadi antrean sepanjang 1,2 km yang keluar hingga ke area luar Pelabuhan Ciwandan.
Upaya penggeseran kembali truk ke Pelabuhan Merak baru dilakukan sore hingga malam hari, yang sayangnya terlambat, karena pada malam hari kendaraan dari arah lain mulai berdatangan. Akibatnya, hanya sekitar 100 unit truk yang berhasil digeser.
Kedua, kondisi pagi hingga siang pada tanggal 25 Maret 2025 di Pelabuhan Merak dalam kondisi kosong, sedangkan antrean di Pelabuhan Ciwandan masih mengular. Mengingat saat itu masih siang hari, di mana arus kendaraan menuju Merak cenderung lebih rendah, kami mengusulkan agar area parkir Ciwandan dikosongkan terlebih dahulu dengan membagi muatan ke Pelabuhan Merak.
Baca Juga: Regulasi Angkutan Barang Lebaran 2025: Lokasi, Kriteria Kendaraan dan Periode Berlaku
Ketiga, Fleksibilitas pengaturan arus kendaraan dimana jika nantinya pada malam hari atau di hari-hari berikutnya Pelabuhan Merak tidak mampu menampung kendaraan Kelas Kecil (KK), maka sebagiannya dapat dialihkan ke Pelabuhan Ciwandan - setelah Ciwandan dalam kondisi kosong. Dengan demikian, arus kendaraan dapat diatur lebih fleksibel, truk tidak hanya terpusat di Ciwandan, dan sebaliknya kendaraan KK tidak hanya terpusat di Merak, sehingga diharapkan antrean kendaraan bisa diminimalisasi.
Keempat, Kebijakan Pengalihan Truk dan Kapasitas Pelabuhan dimana kebijakan Menteri Perhubungan yang melarang truk dari arah Jakarta untuk langsung melewati tol menuju Pelabuhan Merak, dan mengharuskan truk dialihkan ke Pelabuhan BBJ di Bojanegara serta Pelabuhan Ciwandan, perlu dipertimbangkan kembali.
Hal ini karena Pelabuhan Merak merupakan pelabuhan utama yang memiliki 7 pasang dermaga MB full kompatibel, yang mampu melayani segala jenis kendaraan dengan lebih efisien. Berbeda dengan Pelabuhan BBJ dan Ciwandan yang memang tidak dirancang untuk melayani kapal Roro dengan kemampuan bongkar muat yang sangat cepat.
"Kapal Roro di Merak dilengkapi dengan rampdoor di haluan dan buritan kapal, memungkinkan kendaraan keluar masuk secara cepat dan efektif. Sementara itu, kapasitas BBJ dan Ciwandan terbatas, sehingga berpotensi menimbulkan antrean panjang," beber Khoiri dalam suratnya itu.
Khoiri berharap agar Menhub Dudy Purwaghandi berkenan mempertimbangkan dan mengambil keputusan terbaik demi kelancaran arus transportasi di Pelabuhan Ciwandan dan Merak. "Kami berharap Pak Menhub memperhatikan masukan kami itu," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
Terkini
-
Sambangi Korsel, Bahlil Hasilkan 3 Kerja Sama Strategis di Sektor Energi
-
Tak Asal Tanam, Petani Sawit Mulai 'Melek' Gunakan Metode Ilmiah
-
Sumbang Rp 4,96 T, ITDC Beberkan Efek MotoGP ke Ekonomi RI
-
Menaker: WFH Tidak Boleh Kurangi Gaji dan Tunjangan Karyawan
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik