Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menerapakan tarif impor yang lebih tinggi terhadap sejumlah negara dan mengguncang pasar keuangan global.
Kebijakan proteksionis ini sontak menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terkait dampaknya terhadap arus perdagangan internasional, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas pasar modal.
Menanggapi hal ini, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengeluarkan pernyataan tegas yang menyerukan kepada para investor dalam negeri untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menyikapi kebijakan tersebut.
"Investor agar tidak panik. Lakukan analisis secara cermat dan mengambil keputusan investasi secara rasional," kata Jeffrey melalui pesan singkatnya dikutip Senin (7/4/2025).
Diketahui, reaksi pasar global terhadap kebijkaan ini cukup signifikan. Indeks-indeks saham utama di berbagai belahan dunia menunjukkan volatilitas yang meningkat, dengan kecenderungan melemah akibat sentimen negatif. Nilai tukar mata uang negara-negara berkembang juga mengalami tekanan terhadap Dolar AS, yang dianggap sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah negara Asia anjlok ketika dibuka pada Senin (7/4) pagi. Tren lemah ini terus berlanjut sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merilis tarif impor baru pekan lalu.
Diberitakan Channel News Asia, pembukaan indeks acuan Jepang Nikkei 225 masih merosot hingga 7,8 persen. Indeks yang melacak 225 perusahaan besar Jepang itu mencatat level terendah sejak akhir 2023.
Indeks acuan Korea, Kospi, juga anjlok lebih dari 4,8 persen setelah dibuka. Perdagangan bahkan sempat dihentikan selama lima menit demi mencegah panic selling.
Hal serupa terjadi di Taiwan ketika indeks Taiex meloyo hingga lebih dari 9,7 persen setelah pembukaan.
Baca Juga: Kurs Rupiah Selangkah Lagi Rp17.000 per Dolar AS, Donald Trump Biang Keroknya
Catatan ini membuat pasar saham Asia mengalami periode terburuk dua hari untuk saham Wall Street dalam lima tahun terakhir. Saham berjangka AS juga anjlok pada Minggu (6/4) malam setelah nilai pasar terhapus lebih dari US$5,4 triliun.
Di Indonesia, pasar modal berpotensi turut merasakan dampaknya usai libur panjang lebaran 2025 yang akan dibuka pada Selasa (8/4/2025). Kekhawatiran utama bagi pasar Indonesia adalah potensi penurunan permintaan ekspor ke AS karena tarif impor sebesar 32 persen yang diberlakukan, serta dampak tidak langsung dari perlambatan ekonomi global terhadap kinerja perusahaan-perusahaan dalam negeri.
Jefrrey pun berusaha meredam kepanikan investor dengan menyampaikan pandangannya secara terbuka. Dia menekankan bahwa tarif Trump yang telah berlaku tidak begitu berpengaruh terhadap sejumlah bursa asia termasuk Indonesia.
"Kalau kita lihat data maka bursa bursa negara Asia yang dikenakan tarif tinggi tidak mengalami dampak negatif yang signifikan. Tetapi justru bursa negara Eropa dan Amerika yang berdampak signifikan," katanya.
Meski demikian, BEI terus memantau perkembangan situasi global, termasuk kebijakan-kebijakan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi pasar modal Indonesia. Pihaknya juga secara aktif berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mengantisipasi dampak negatif dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, semakin agresif dalam memperluas perang dagang dengan menaikkan tarif impor. Pada Rabu waktu setempat, ia secara resmi memberlakukan tarif dasar 10% untuk seluruh produk impor ke AS, sekaligus mengenakan bea masuk lebih tinggi terhadap puluhan negara, termasuk mitra dagang utama AS.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
Terkini
-
Pengamat: Penjatahan BBM Subsidi Masih Wajar dan Efektif Tekan Konsumsi Energi
-
Harga Stabil Rp4.500, PGN Dorong BBG Jadi Opsi Ekonomis Bagi Kendaraan
-
125 Tahun Mengabdi Untuk Negeri, Pegadaian Perkuat Layanan Digital Melalui Tring!
-
Belanja di Korea Selatan Kini Tidak Perlu Tukar Uang, Bisa Pakai QRIS
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
-
Inflasi Maret 2026 Tembus 0,41 Persen, Kenaikan Harga Pangan dan Bensin Jadi Biang Keroknya
-
Isu Harga BBM Melejit, Warga Jakarta 'Panic Buying' Pertamax Hingga Ludes!
-
Harga Avtur Naik 70%, Nasib Tarif Tiket Pesawat Gimana?
-
LPDB Koperasi Perkuat Skema Penyaluran Dana Bergulir untuk Dukung Operasional KDKMP
-
Punya 9,8 Juta Pengguna, Indodax Perkuat Literasi Kripto di Indonesia